Best Profit Futures Banjarmasin

Rupiah Rp14.488 per Dolar AS, Mata Uang Asia Kompak Melemah

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

BESTPROFIT
PT BESTPROFIT FUTURES – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.488 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot pagi ini, Selasa . Posisi ini melemah 12 poin atau 0,9 persen dari kemarin sore, Senin (26/11) di Rp14.476 per dolar AS.

Seperti halnya rupiah yang berbalik melemah, setelah kemarin menguat, beberapa mata uang di kawasan Asia juga berpindah ke zona merah. Peso Filipina melemah 0,32 persen, ringgit Malaysia minus 0,16 persen, won Korea Selatan minus 0,12 persen, dolar Singapura minus 0,02 persen, dan baht Thailand minus 0,02 persen. – PT BEST PROFIT

Hanya dolar Hong Kong dan yen Jepang yang bertahan di zona hijau, masing-masing menguat 0,03 persen dan 0,1 persen.

Di sisi lain, nilai tukar beberapa mata uang utama negara maju masih kokoh menguat dari dolar AS, seperti rubel Rusia menguat 0,12 persen, euro Eropa 0,05 persen, dan poundsterling Inggris 0,03 persen. – PT BESTPROFIT

Namun, franc Swiss stagnan. Sedangkan dolar Australia dan dolar Kanada kompak melemah 0,01 persen dari mata uang Negeri Paman Sam.

Kendati melemah, Analis CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan mata uang Garuda akan kembali menguat pada sore nanti karena sentimen positif dari penerimaan proposal keluarnya Inggris dari zona Eropa (Britania Exit/Brexit) sejatinya masih akan berlanjut. – BEST PROFIT

Pada saat yang bersamaan, pemerintah Italia akhirnya rela mengalah dari Komisi Eropa untuk kembali meninjau defisit anggaran mereka. Kedua faktor tersebut diperkirakan masih akan membuat euro Eropa dan poundsterling Inggris menguat dan melemahkan dolar AS.

Sentimen internal dari AS nampaknya belum akan signifikan, sehingga masih mata uang Negeri Paman Sam berpotensi bergerak terbatas.

“Rupiah akan kembali melanjutkan penguatan dengan memanfaatkan berbalik naiknya euro Eropa,” ujar Reza, Selasa. – BESTPROFIT

Sentimen eksternal itu, katanya, bahkan menutup kekhawatiran pelaku pasar akan pembengkakan alokasi subsidi energi pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Alokasi subsidi diperkirakan bakal melesat hingga Rp150 triliun dari asumsi awal Rp94,6 triliun.

“Tapi tampaknya hal ini tidak terlalu direspons negatif oleh pelaku pasar,” pungkasnya.

Sumber : CNN Indonesia

Tinggalkan Balasan