Best Profit Futures Banjarmasin

Rupiah Menguat ‘Terciprat’ Rencana Negosiasi Dagang AS-China

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

BESTPROFIT
PT BESTPROFIT FUTURES – Jakarta, Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.833 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot pagi ini, Jumat. Posisi ini menguat tipis 7 poin dari level sore kemarin, Kamis (13/9) di Rp14.840 per dolar AS.

Sejalan dengan rupiah, beberapa mata uang di kawasan Asia juga menguat dari dolar AS. Won Korea Selatan menguat 0,17 persen, baht Thailand 0,17 persen, peso Filipina 0,05 persen, dan dolar Singapura 0,01 persen. Hanya yen Jepang yang melemah 0,09 persen dari dolar AS. – PT BEST PROFIT

Sedangkan mata uang utama negara maju cenderung bervariasi. Poundsterling Inggris dan euro Eropa menguat, masing-masing 0.04 persen dan 0,01 persen. Namun, dolar Kanada, franc Swiss, dan rubel Rusia melemah, masing-masing minus 0,02 persen, 0,06 persen, dan 0,12 persen.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada memperkirakan rupiah berpeluang menguat pada hari ini lantaran pergerakan dolar AS berpotensi melemah akibat berkurangnya permintaan mata uang Negeri Paman Sam itu sebagai aset safe haven. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.830-14.842 per dolar AS pada hari ini. – PT BESTPROFIT

“Penurunan dolar AS ini merespon rencana pemerintah AS yang akan melakukan renegosiasi dagang dengan China,” ucap Reza, Jumat.

Pemerintah AS melalui Menteri Keuangan Steven Mnuchin dikabarkan menawarkan negosiasi perdagangan kepada China melalui Wakil Perdana Menteri Liu He, meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump justru berencana mengerek kembali tarif bea masuk impor untuk produk asal China senilai US$267 miliar. – BEST PROFIT

Selain itu, pergerakan dolar AS akan mendapat tekanan dari data inflasi AS yang tidak sesuai ekspektasi pasar. Inflasi AS berada di angka 0,2 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Agustus 2018, sedangkan ekspektasi pasar berharap mencapai 0,3 persen.

Sementara inflasi secara tahunan (year on year/yoy) berada di kisaran 2,7 persen pada Agustus 2018 atau melambat dari Juli 2018 yang mencapai 2,9 persen.

Inflasi AS didorong oleh peningkatan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan tarif sewa hunian. Meski, terjadi penurunan harga untuk biaya kesehatan dan pakaian jadi. – BESTPROFIT

Sentimen lain yang turut mempengaruhi laju rupiah, menurut dia, adalah pernyataan dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, yang menyebut bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih bisa menahan tekanan rupiah.

Namun, bila pelemahan rupiah terus berlangsung bukan tidak mungkin akan memberikan risiko yang lebih luas. Sebab, pemerintah dan korporasi banyak mengandalkan pendanaan dari luar negeri.

“Tapi pernyataan ini direspons cukup variatif oleh pelaku pasar,” pungkasnya.

Sumber: CNN Indonesia