Relevansi Tol Makin Panjang dan Mobil Gerak Roda Depan

INFO DAN KEGIATAN news Post Tekno

PT. BESTPROFIT FUTURES

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia, terutama yang bebas hambatan atau tol, kini lagi masif dilakukan pemerintah buat melancarkan akses antarkota. Hal ini diduga mempengaruhi desain mobil secara garis besar karena bisa dibuat fokus ke hal lain bukan hanya untuk mengatasi rintangan jalan.

Perbaikan kualitas jalan ini mengubah strategi produsen mobil untuk pengembangan produk, salah satunya yakni semakin banyak memilih sistem gerak roda depan (Front Wheel Drive/FWD) yang lebih relevan untuk aspal mulus dan tidak banyak tanjakan dan turunan terjal. BESTPROFIT

Peralihan ini cukup masuk akal sebab sebelum jalan tol makin banyak dan panjang di Indonesia, masyarakat yang ke luar kota kebanyakan menggunakan jalan nasional dengan beragam kondisi seperti naik-turun, berkelok, bolong sana-sini, sempit, dan rute panjang.

Dulu salah satu siasat utama produsen buat mengatasi kondisi jalan seperti itu yakni mendesain mobil penggerak roda belakang (Rear Wheel Drive/RWD). Desain RWD untuk Indonesia dianggap lebih bisa diandalkan untuk mengangkut muatan dan banyak penumpang.

Namun sekarang berbeda. Seiring waktu, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan teknologi, produsen semakin berani menawarkan mobil FWD, bahkan untuk jenis MPV dan SUV yang identik RWD. Karena fenomena itu muncul-lah pertanyaan “masih butuh mobil berpenumpang dengan sistem gerak roda belakang?”.

MPV jenis FWD misalnya Mitsubishi Xpander, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio, dan Wuling Cortez. Mobil-mobil ini muncul di pasar yang dikuasai model RWD Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Tapi preferensi RWD untuk mobil di Indonesia, nampaknya bakal semakin pudar lantaran Avanza dan Xenia disebut bakal beralih ke FWD. PT. BESTPROFIT

Kabar perubahan fundamental Avanza dan Xenia belakangan lagi jadi sorotan karena sejak meluncur pada 2003 keduanya setia mempertahankan sistem RWD.

Salah satu keunggulan FWD yakni tak menggunakan propeller shaft, jadi desain mobil, terutama di bagian kabin bisa dibuat lebih menunjang hal lain. Selain itu kemampuan FWD yang dianggap loyo di tanjakan juga bisa disiasati dengan teknologi seperti kontrol traksi.

Dipertimbangkan

Product Planning SGMW Motor Indonesia (Wuling Indonesia) Danang Wiratmoko berpendapat pengembangan jalan tol di Tanah Air bisa jadi punya andil memicu perubahan strategi Agen Pemegang Merek (APM) menentukan sistem gerak roda. Walau begitu dia bilang itu tidak sepenuhnya acuan keputusan.

“Ya pasti jadi pertimbangan pasar setempat dan kondisi infrastruktur. Tapi bukan berarti itu menjadi penentu keputusan,” kata Danang saat dihubungi, Rabu (29/9).

Ia memberi contoh pengembangan produk Wuling yang sudah punya tiga mobil penumpang sejak 2017 hadir di Indonesia. Produk perdana Wuling yaitu Low MPV Confero adalah RWD, sedangkan MPV Cortez dan SUV Almaz FWD.

“Nah kalau di kami pertimbangannya kalau mengubah dari belakang ke depan berati mengganti platform keseluruhan. Jadi ada pertimbangan bahwa di China [tiga produk ini] kita proyeksi kan itu lebih cocok ke Indonesia ya sudah kami bawa [tanpa diubah sistem geraknya],” ungkapnya. PT. BEST PROFIT

Ia mengatakan produsen melihat pengembangan produk dari banyak hal dan sudut pandang. Orientasinya bisa ke biaya desain dan produksi sampai penyesuaian kebutuhan konsumen.

“Jadi katakanlah tol sudah banyak, tapi tetap ada di daerah tertentu yang mereka masih punya kebutuhan penggerak belakang atau malah 4×4, ya mobil seperti itu tetap dikembangkan,” ucap dia.

“Terus di sisi lain misal jalan tol sudah banyak, sudah rata halus aspalnya, nah itu bisa juga dikembangkan penggerak roda depan. Jadi tetap ada pertimbangan ke arah situ, tapi tetap tidak menjadi penentu keputusan,” ucap Danang.

Danang bilang setiap produsen harus menentukan titik keseimbangan antara desain mobil dan kebutuhan pasar. Jika tepat dan diterima maka potensi produk dibeli masyarakat bakal semakin besar.

“Kan harus menemukan balance poin, pasar minta apa ya kita ngasihnya apa. Ini harus ketemu. Dan masing masing APM punya strategi berbeda dengan produknya,” kata dia.

Tol Indonesia tambah panjang

Data menyebutkan jalan tol di Indonesia bertambah hingga 258 km pada 2020, sehingga total keseluruhan pada periode itu menjadi 2.346 km. Sedangkan pada 2019 panjang jalan tol seluruh di Indonesia 2.088 km.

Beberapa jalan tol yang rampung pada 2020 di antaranya ruas Kayu Agung-Palembang-Betung, Sigli-Banda Aceh, Pandaan-Malang seksi V, hingga Pekanbaru-Dumai. Ada juga ruas Cimanggis-Cibitung, Depok-Antasari seksi II, Manado-Bitung, dan Krian-Manyar.

Keberadaan jalan tol yang semakin bertambah dipercaya akan mempermudah masyarakat dan memangkas waktu tempuh hingga memangkas pengeluaran selama dalam perjalanan.

Pemerintah sendiri telah menargetkan waktu tempuh perjalanan (travel time) kendaraan di jalan tol Indonesia hanya 1,9 jam sampai 2,1 jam per 100 km pada 2024. Tujuannya agar biaya logistik turun dan daya saing Indonesia meningkat.

Untung rugi RWD dan FWD

Semua jenis sistem gerak roda pada mobil punya kelebihan serta kekurangan dan yang umum digunakan pada kendaraan modern adalah FWD dan RWD.

FWD berarti tenaga yang dihasilkan mesin disalurkan ke kedua roda depan. Konfigurasi ini digemari produsen lantaran membuat produksi mobil menjadi lebih murah karena tak perlu banyak memproduksi komponen.

Secara umum FWD juga bisa lebih irit dan mampu menempuh jarak lebih jauh dibanding RWD ataupun all wheel drive (AWD). Penyebab utamanya karena bobot ringan sebab lebih sedikit komponen, misalnya tak perlu propeller shaft.

FWD juga unggul soal traksi di area depan mobil sebab kedua ban penggerak di depan mendapat tekanan ke bawah dari bobot mesin dan transmisi. Saat kondisi jalanan licin, misalnya hujan atau salju, FWD lebih baik ketimbang RWD.

Kelemahan FWD yaitu pada saat tikungan, terutama pada kecepatan tinggi. Menurut US Auto Sales, FWD tidak akan lebih responsif dari RWD dalam kondisi itu. BEST PROFIT

Sementara itu mobil RWD dinilai lebih rumit secara teknis dibanding FWD. Tenaga dari mesin disalurkan ke kedua roda belakang melalui propeller shaft dan diferensial.

Mobil RWD jauh lebih baik daripada FWD di tikungan dan jauh lebih stabil dibanding FWD pada kecepatan tinggi.

Mengutip penjelasan Toyota Astra Motor, beban yang disalurkan ke belakang memungkinkan mobil memiliki keseimbangan depan-belakang lebih baik. Inilah salah satu sebab mengapa mobil sport menggunakan RWD.

Pada RWD roda depan dan belakang punya fungsi yang berbeda, yakni ban belakang sebagai penggerak sedangkan ban depan untuk mengendalikan arah mobil. Hal ini bikin mobil lebih seimbang dan memiliki respons kemudi lebih baik.

Secara teori hal ini juga membuat mobil memiliki traksi lebih baik ketika berbelok ketimbang pada FWD yang roda depannya digunakan untuk berakselarasi sekaligus penentu arah belok.

Meski demikian, berhubung beban mobil di belakang tidak sebesar beban di depan, ini bisa membuat RWD lebih mudah kehilangan traksi dan cenderung oversteer, terutama di jalan licin.

Khawatir FWD keok di tanjakan

Saat ini masih banyak masyarakat yang ragu atas ketangguhan mobil FWD, misalnya khawatir utama soal kemampuannya melintasi tanjakan.

Kekhawatiran seperti itu dibantah sebagian oleh praktisi keselamatan berkendara Jusri Pulubuhu.

Jusri mengatakan mobil FWD ataupun RWD tidak memiliki perbedaan signifikan saat menanjak jika kondisinya ideal, termasuk didukung kondisi jalan yang baik.

“Kalau semua ideal, tanjakan curam, ban ideal, pengemudinya juga tahu semua, enggak ada masalah dengan penggerak depan. Perbedaan tidak signifikan. Apalagi kalau traffic-nya tidak macet, enggak ada masalah. Yang paling penting adalah metode step-step-nya itu. Kalau step-step-nya bisa, tinggal penyesuaian saja,” kata Jusri Pulubuhu.

Menurut Jusri kalau mobilnya sudah bergerak sebenarnya tidak ada masalah untuk penggerak depan atau belakang di tanjakan.

Hal yang kerap bermasalah biasanya karena faktor manusia, seperti pengemudi buru-buru menginjak pedal gas. Saat kondisi itu ban depan di mobil FWD berpotensi selip dan akan semakin parah bila permukaan jalan licin setelah hujan atau berpasir.
Masa depan FWD

Danang mengatakan meski FWD punya kekurangan, mobil penumpang jenis ini bisa memiliki masa depan cerah, namun tetap belum bisa menggantikan peran RWD.

“Kalau mainstream roda depan karena banyak pakai di kota, lebih murah juga, tapi tetap tidak menggantikan semua. Di market tertentu kebutuhan akan beda. Kalau untuk balap atau offroad pasti akan milih yang sesuai dengan mereka,” ungkap Danang.

Ia melanjutkan jalan tol memang menjadi salah satu alasan perubahan sistem gerak roda sebuah produk mobil penumpang, meski harus dilihat fungsi dari mobil itu kembali.

“Seperti halnya mobil kecil cocok gunakan penggerak depan atau belakang karena bobotnya tidak terlalu berat. Dan tenaga sama saja. Tapi APM punya pertimbangan lain dari gunakan penggerak depan karena bisa lebih terjangkau jadi konsumen akan merasa diuntungkan,” katanya.

Sumber : cnnindonesia