Best Profit Futures Banjarmasin

Penyebab Cuaca di Sebagian Wilayah RI Belakangan Lebih Panas

PT. BESTPROFIT FUTURES

bill-gates-2_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan suhu udara tinggi atau lebih panas yang terasa di DKI Jakarta dan sekitarnya belakangan akibat jumlah air di atmosfer. Prakirawan cuaca BMKG, Nanda Alfuadi mengatakan jumlah uap air di atmosfer Indonesia bagian selatan seminggu belakangan memang minim. Faktor itu menjadi salah satu penyebab cuaca di Jabodetabek atau di sebagian wilayah Indonesia lebih panas. BESTPROFIT


“Minimnya jumlah uap air di atmosfer Indonesia bagian selatan menyebabkan cuaca cerah mendominasi dalam beberapa hari belakangan ini akibat tutupan awan di langit yang relatif sedikit,” ujar Nanda kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/5). Nanda menjelaskan minimnya jumlah air di atmosfer juga mengakibatkan pancaran radiasi matahari yang mencapai permukaan bumi sangat optimal. Pada akhirnya, suhu udara akan terasa panas seperti saat ini. Lebih lanjut, Nanda membeberkan secara umum daerah dengan suhu tertinggi terkonsentrasi di wilayah Jawa. Wilayah selain Jawa, kata dia adalah Sumatera bagian timur dan Kalimantan. Wilayah-wilayah tersebut juga dinilai bersesuaian dengan daerah atmosfer kering dalam beberapa sepekan terakhir. BEST PROFIT

“Diperkirakan dalam sepekan ke depan wilayah Sumatera dan Jawa suhu hariannya masih akan relatif tinggi (>31 derajat Celsius),” ujarnya. Di sisi lain, Nanda menyampaikan pemantauan observasi suhu udara pada stasiun meteorologi di Jabodetabek menunjukkan bahwa suhu udara yang tercatat maksimal sebesar 35,1 derajat Celsius di daerah Ciputat. Suhu udara yang tercatat masih cenderung normal dibandingkan nilai klimatologis atau rata-ratanya

“Pada daerah Jabodetabek bulan April sampai Mei secara statistik berdasarkan data historisnya, suhu udara cenderung lebih tinggi dibanding rata-rata normalnya,” ujar Nanda. Sementara itu, Deputi Bidang Meteorologi Guswanto mengungkapkan menurut WMO (World Meteorological Organization), gelombang panas atau dikenal dengan “Heatwave” merupakan fenomena kondisi udara panas yang berkepanjangan selama 5 hari atau lebih secara berturut-turut. PT. BESTPROFIT

“Dimana suhu maksimum harian lebih tinggi dari suhu maksimum rata-rata hingga 5°C (9°F) atau lebih,” kata Guswanto lewat keterangan tertulis. Fenomena gelombang panas ini biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Secara dinamika atmosfer hal tersebut dapat terjadi karena adanya udara panas yang terperangkap di suatu wilayah disebabkan adanya anomali dinamika atmosfer yang mengakibatkan aliran udara tidak bergerak dalam skala yang luas, seperti misalnya ada sistem tekanan tinggi dalam skala yang luas dan terjadi cukup lama.

Menurut Guswanto, secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi. Selain itu, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang cepat. Dengan perbedaan karakteristik dinamika atmosfer tersebut, maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave.

“Yang terjadi di wilayah Indonesia adalah kondisi Suhu Panas harian yang umumnya disebabkan oleh kondisi cuaca cerah pada siang hari dan relatif lebih signifikan pada saat posisi semu matahari berada di sekitar ekuatorial,” katanya. Pada pertengahan Mei 2021, posisi semu matahari sudah berada di Belahan Bumi Utara (BBU) di sekitar 19o LU, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa di wilayah Indonesia selatan ekuator akan menjelang periode angin timuran yang identik dengan musim kemarau. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum tanggal 16 Mei 2021 tercatat berkisar antara 33.0-35.2 °C dengan suhu maksimum 35.2 °C terjadi di Surabaya. PT. BEST PROFIT

Kondisi suhu maksimum dengan kisaran tersebut masih berada kondisi normal, dimana perubahan suhu maksimum harian masih dapat terjadi dalam skala waktu harian bergantung pada kondisi cuaca atau tingkat perawanan di suatu wilayah. Saat ini sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki awal musim kemarau dimana tingkat perawanan akan cukup rendah pada siang hari, sehingga masyarakat diimbau dan diharapkan tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas atau kondisi terik pada siang hari dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan diri, keluarga, serta lingkungan.

Sumber : cnnindonesia