Panas Ekstrem 60 Derajat Timur Tengah Ancam Jemaat Haji

INFO DAN KEGIATAN news Post Tekno

PT. BESTPROFIT FUTURES

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) diprediksi bakal mencapai suhu panas ekstrem hingga 60 derajat Celcius imbas pemanasan global sehingga mengancam calon haji yang menjalankan ibadah di Arab Saudi. Setiap tahunnya Arab Saudi dibanjiri dua hingga tiga juta masyarakat muslim dari seluruh dunia yang melangsungkan ibadah haji. Ibadah haji merupakan satu dari lima kewajiban yang harus ditunaikan umat muslim. BESTPROFIT

Namun dengan adanya peningkatan suhu di wilayah MENA, aktivitas dari rombongan haji yang melangsungkan ibadah dapat terancam.

Para calon haji ini mesti memiliki terobosan baru untuk melindungi diri dari situasi panas gila-gilaan ini. Pasalnya, untuk menunaikan ibadah haji mereka mesti berada di luar ruangan 20 hingga 30 jam selama lebih dari lima hari.

“Tingkat panas bisa melebihi ambang batas bahaya yang ekstrem,” jelas George Zittis, peneliti utama studi tersebut.

Wilayah tak bisa dihuni

Peningkatan suhu yang berada dalam tingkat ekstrem di kawasan tersebut kemungkinan akan membuat beberapa wilayah tidak dapat lagi dihuni dalam beberapa dekade mendatang. PT. BESTPROFIT

Peningkatan suhu di seluruh wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara ini akan memberikan berbagai kerusakan seperti krisis air, sulitnya menanam bahan makanan karena cuaca ekstrem dan kekeringan, hingga lonjakan kematian terkait panas dan masalah kesehatan.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature disebutkan pada 2100 akan ada sekitar 600 juta penduduk, atau sekitar 50 persen populasi di wilayah tersebut yang dapat terpapar cuaca super ekstrem jika proyeksi gas rumah kaca seperti masa sekarang terus berlanjut.

“Peristiwa ini melibatkan suhu yang terlalu tinggi (hingga 56derajat celcius dan lebih tinggi) dan akan berlangsung lama (beberapa minggu), berpotensi mengancam jiwa manusia,” tulis peneliti dalam studi tersebut seperti dilansir Aljazeera.

Ketua Penulis Studi, George Zittis mengatakan kelembaban yang lebih tinggi dari peningkatan penguapan laut di sekitarnya akan meningkatkan bahaya. PT. BEST PROFIT

“Paparan panas selama musim panas akan mencapai atau melebihi ambang batas kelangsungan hidup manusia, setidaknya di beberapa bagian wilayah dan pada bulan-bulan terpanas,” ujar Zittis.

Wilayah-wilayah kota besar di sekitar Teluk, Laut Arab, dan Laut Merah-seperti Dubai, Abu Dhabi, Doha, Dhahran, dan Bandar Abbas-disebut akan menjadi wilayah lebih sering mengalami suhu ekstrem.

Sekitar 70 persen dari negara-negara yang paling mengalami kesulitan air di dunia berada di wilayah MENA. Saat iklim semakin memanas, dampak sosial dan ekonomi di sana akan semakin parah.

Lebih dari 12 juta orang di Suriah dan Irak kehilangan akses ke air bersih, makanan, dan listrik karena peningkatan suhu, tingkat curah hujan rendah, dan kekeringan. Hal ini kemudian membuat orang-orang di seluruh wilayah tersebut kekurangan air minum dan pertanian.

Suriah saat ini disebut sedang menghadapi kekeringan terburuk dalam 70 tahun terakhir. Kelompok-kelompok bantuan menggambarkan situasi tersebut sebagai “bencana yang belum pernah terjadi.”

“Potensi intensifikasi gelombang panas sudah cukup keras, panas dan gersang di lingkungan MENA, dan diperkirakan akan berdampak negatif langsung pada kesehatan manusia, pertanian, air dan energi, dan banyak sektor sosial ekonomi lainnya,” kata direktur dampak hidrogeologis Yayasan Pusat Perubahan Iklim Eropa-Mediterrania (CMCC), Paola Mercogliano. BEST PROFIT

Sehingga, para peneliti sepakat penurunan emisi gas rumah kaca harus segera diturunkan. Jika tidak, situasi di kawasan MENA akan menjadi sangat suram dalam beberapa dekade mendatang.

“Ketika sekitar 600 juta orang dihadapkan pada gelombang panas yang mengancam jiwa [dan] kekurangan makanan dan air berikutnya … satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah pindah ke bagian dunia yang lebih dingin, berlimpah sumber daya, dan masih berkembang,” tulis Hafed al- Ghwell dari Institut Kebijakan Luar Negeri di Universitas John Hopkins.

Sumber : cnnindonesia