Best Profit Futures Banjarmasin

Meretas Bahaya Sesar Lembang di Belantara Hoaks

PT. BESTPROFIT FUTURES

tebing-karaton-bandung_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Perbincangan mengenai Sesar Lembang kembali terkuak pada awal 2021 ketika beredar hoaks kalau patahan ini akan menimbulkan gempa bumi hebat tahun ini. “BMKG Meminta Warga Bandung, Cimahi Bandung Barat Padalarang Lembang WASPADA, Gempa Dahsyat Mengintai Akibat Gerakan Sesar Lembang pada awal tahun 2021 ini.” BESTPROFIT

Demikian petikan hoaks yang sempat menghebohkan warga Bandung di pada Januari 2021. Hal ini lantas diklarifikasi oleh BMKG bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi dengan pasti kapan akan terjadi. “Gempa bumi belum dapat diprediksi, sehingga informasi bahwa tahun 2021 Sesar Lembang akan melepaskan energi yang dikumpulkan sejak 2012 adalah informasi hoaks (tidak benar),” cuit BMKG lewat akun resmi @BMKGBandung (26/1). PT. BESTPROFIT

Sebelumnya, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono juga sempat menjelaskan bahwa teknologi yang ada saat ini baru bisa digunakan untuk mendeteksi pergerakan lempeng Bumi, tapi belum bisa mengetahui dengan pasti kapan gempa akan terjadi.

Sehingga, Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly menegaskan jika ada informasi prediksi gempa bumi, itu dipastikan hoaks atau kabar bohong. “Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi gempa bumi dengan tepat, kapan, dimana, dan berapa kekuatannya,” tandasnya.

Potensi gempa Sesar Lembang

Berdasarkan penelitian Mudrik Daryono, peneliti Geoteknologi LIPI, Sesar Lembang tidak berupa patahan lurus, tapi terpecah di beberapa titik. Lebih lanjut Hal ini membuat potensi kekuatan gempa bisa bervariasi. Jika satu bagian saja yang bergeser, maka gempa yang dihasilkan hanya berskala kecil. Namun, jika semua segmen sesar bergerak bersamaan diprediksi bisa memicu gempa hingga 6,9 Mw (Magnitudo wave/ gelombang magnitudo). PT. BEST PROFIT

Dalam penelitiannya, Mudrik membagi sesar ini menjadi enam bagian. Namun, menurutnya enam bagian yang ia buat berdasarkan aturan geometrik yang menentukan arah gerak patahan. “(Saya bagi jadi) 6 section, ini beda ama segmentasi (yang akan berkaitan dengan produksi gempa dan bisa)…berhenti di segmen tertentu. (Sementara) section secara geometrik, tidak ada unsur produksi gempa. Geometri berdasarkan arah orientasinya. Ketidakaturan atas geometri,” jelasnya saat ditemui di kantor LIPI, Bandung (6/4).

Menurut Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung, Rasmid, panjang sesar jalur sesar, bakal berpengaruh pada besar magnitudo gempa yang dihasilkan. Patahan yang pendek hanya akan menghasilkan gempa yang kecil, sementara patahan yang panjang bisa menimbulkan gempa besar.

Lantaran Sesar Lembang bukan merupakan patahan tunggal yang lurus, tapi terpecah di beberapa titik, sehingga gempa yang dihasilkan selama ini pun tak terlalu besar.

Berdasarkan penelitian Rasmid pada 2011 dengan menempatkan enam seismograf selama dua tahun di sepanjang jalur Sesar Lembang, terbukti sesar ini memang kerap menghasilkan gempa kecil. Hasil rekam jejak selama dua tahun terdapat 14 gempa bumi yang dihasilkan Sesar Lembang. Namun, magnitudonya sangat kecil di kisaran 1-2 Mw.

“Paling gede pernah ada tahun 2011 itu Agustus, di Kampung Muril, Jambudipa,” jelasnya saat ditemui di kantor BMKG Bandung (6/4). Gempa yang terjadi saat itu bermagnitudo3,3. Meski tergolong kecil, gempa dengan episentrum dangkal itu sempat merusak rumah ratusan warga. BEST PROFIT

Terpisah, Peneliti Seismologi ITB, Afnimar menyebut, kerusakan rumah warga akibat gempa biasanya karena bangunan dirancang tanpa memperhatikan ketahanan terhadap gempa. Misal bagian sudut bangunan tidak diperkuat dengan kolom besi. Namun, ia maklum, karena membuat bangunan tahan gempa akan bergantung pada kekuatan ekonomi masing-masing warga.

Meski demikian, Mundrik menjelaskan bahwa risiko gempa Sesar Lembang yang dihitung dengan menyatukan seluruh jalur sesar menjadi sepanjang 29 kilometer digunakan untuk menghitung kemungkinan terburuk jika patahan ini pecah bersamaan.

“BMKG mengakomodir bagaimana jika terjadi gempa, maka seperti apa goncangannya. Kita pakai magnitudo 6,5-7kalau terjadi gempa ke segala arah.(Gempa ini bisa) kena se-Bandung raya, dia ga kena rupture (tanah pecah akibat patahan),tapi kena goncangan, itu yg patut diwaspadai,” tandas Mundrik.

Perhitungan terburuk gempa hingga 6,9 Mw akan menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam merencanakan mitigasi dan evakuasi atas kondisi terburuk yang mungkin terjadi. “Data ini dibutuhkan untuk pemda atau BPBD, untuk melihat kemungkinan terburuknya seperti apa, jangan sampai tidak siap nantinya,” tutur Rasmid.

Sumber : cnnindonesia