Best Profit Futures Banjarmasin

Menang di Singapura, Film Pendek Indonesia Dibuat Cuma 2 Minggu

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

PT BESTPROFIT FUTURES – Dua film pendek buatan sineas muda Indonesia bertajuk Chick-Chick dan Sowan menang di kompetisi berskala regional ” 5-Min Video Challenge”, yang diselenggarakan di Sofitel Hotel, Singapura, pada Rabu malam. Masing-masing mendapat grand prize senilai 30.000 dollar AS (Rp 404 jutaan) dan 15.000 dollar AS (Rp 202 jutaan).
BEST PROFIT

Mereka terpilih berdasarkan hasil diskusi enam juri yang merupakan pelaku industri film kawakan dari enam negara, yakni Singapura, Gabon, Thailand, Filipina, Australia, dan Indonesia. Adapun penyelenggara lomba adalah anggota Singtel Group, mencakup Singtel, Telkomsel, Optus, Airtel, AIS, dan Globe.

Sutradara Chick-Chick, Kevin Anderson mengatakan proses produksi film yang diganjar juara satu tersebut hanya memakan waktu dua minggu. Tantangan paling besar ketika mengembangkan ide. Sementara waktu paling banyak termakan untuk pengeditan.

“Kami tahu lomba ini last minute jadi persiapannya juga mepet. Tapi memang bagian yang paling tough (susah) ketika kami menentukan ide. Ada beberapa ide yang kami bedah sampai akhirnya memilih ide cerita untuk Chick-Chick,” kata dia, Rabu, usai Awarding Night “5-Min Video Challenge”.  – BESTPROFIT

Chick-Chick bercerita tentang gadis kecil bernama Kara yang harus mengungsi ke rumah neneknya karena orang tuanya sedang tak akur. Di rumah nenek, Kara bertemu dan berteman dengan seekor ayam.

“Kami ingin mengeksplor esensi dari komunikasi yang universal, bukan cuma antar-manusia, tapi juga dengan alam dan binatang. Makanya ada ayam dan anak kecil bernama Kara,” ia menjelaskan.

Kara memanfaatkan telepon kaleng untuk berkomunikasi dengan ayam yang belakangan ia beri nama “Chick”. Lantas telepon kaleng itu pula yang dijadikan alat untuk merukunkan kembali ayah-ibunya.

Tak kurang dari 23 orang tergabung dalam tim pembuatan Chick-Chick. Lokasi shooting-nya sendiri di Jakarta dan Sukabumi, dengan budget produksi Rp 30 juta.  – BEST PROFIT

“Kami ingin memperlihatkan realita sosial yang terjadi di pasar, antara petani, pengepul, dan penjual. Di tengah situasi seperti itu, kami memperlihatkan seperti apa sosok pemimpinnya. Lokasinya sendiri di kampung saya, di Batu, Jawa Timur,” ia menjelaskan.

Tokoh utama di film Sowan adalah seorang walikota yang melakukan perjalanan dengan motor untuk melihat kondisi masyarakatnya. Ia pun sadar ada masalah sistemik yang menimbulkan ketidakpuasan di segala sektor agrikultur daerahnya.

Destian tak menyebut biaya produksi yang dikeluarkan untuk Sowan. Yang jelas, ia mengatakan tim produksi yang berjumlah 10 orang sebisa mungkin menghemat biaya untuk beberapa hal.

“Talent-nya adalah keluarga, tetangga, dan teman-teman kami. Mereka bukan petani sungguhan tapi mereka paham kondisinya. Hanya aktor utamanya yang kami benar-benar casting,” ia menjelaskan.

“Kami sering juga ‘menyelam sambil minum air’. Kayak adegan rapat dengan wali murid, kan banyak orang. Kami cari event di sekolah yang memang sedang penerimaan raport, jadinya ramai,” ia menambahkan.

Tim produksi Sowan sudah dua kali mengikuti “5-Min Video Challenge”. Tahun lalu karya mereka berjudul Rotasi juga menang di kancah nasional maupun regional. Menurut Destian Reandra, kompetisi yang digelar Singtel Group membuatnya ketagihan.

“Lomba ini addicting, bukan cuma dari segi hadiahnya tapi juga experience-nya. Kami ketemu juri-juri yang hebat dan filmmaker dari berbagai negara. Kami jadi terdorong untuk terus berkarya,” ia menuturkan. – PT BESTPROFIT

Teknis dan estetika

Sutradara Indonesia yang menjadi juri di ajang regional, Joko Anwar, mengatakan sejak awal percaya diri dengan Chick-Chick dan Sowan. Menurut dia, dua hal utama yang diperhatikan ketika melihat film bagus adalah segi teknis dan estetika.

“Secara teknis filmnya dilakukan dengan baik, jadi pembuatnya punya skill. Selain itu dari estetika, filmnya memiliki nilai estetis yang tinggi. Tahun ini aku memang favoritnya film kita (Indonesia). Bukan karena dari Indonesia, tapi dari segi story telling-nya bagus sekali, topik yang mereka angkat juga sangat topical,” kata Joko.

Sementara itu, Vice President Brand and Communications Telkomsel, Nirwan Lesmana, mengaku bangga dengan sineas muda Indonesia. Dibandingkan tahun lalu, Nirwan menilai film-film yang dilombakan di skala domestik jauh meningkat dari segi kuantitas dan kualitas.

Tak kurang dari 200 film pendek yang ikut lomba di Indonesia. Para juri disebut-sebut kebingungan menentukan perwakilan Tanah Air untuk unjuk gigi di Singapura, sebab karya-karya yang masuk digarap dengan serius.

“Sebelum lomba kami mengadakan workshop ke komunitas-komunitas film di universitas di daerah-daerah. Mungkin itu juga yang membuat kualitas film yang masuk tahun ini jauh meningkat,” kata Nirwan.

Sebagai penyedia jaringan, kata Nirwan, Telkomsel ingin berperan lebih jauh untuk menstimulasi munculnya konten-konten mobile yang berkualitas. Salah satunya dengan mendorong para video creator untuk membuat karya yang menghibur sekaligus mendidik masyarakat lewat lomba semacam “5-Min Video Challenge”.