Best Profit Futures Banjarmasin

Fakta Kecoak Raksasa, Spesies Hewan Laut Baru di Selatan Jawa

PT. BESTPROFIT FUTURES

ilustrasi-kartu-nama_169

Sejumlah peneliti Indonesia mengungkapkan temuan 10 spesies baru biota laut yang diidentifikasi dalam Ekspedisi Biodiversitas Laut Dalam Selatan Jawa (The South Java Deep Sea Biodiversity Expedition/SJADES) 2018. Dalam ekspedisi yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Lee Kong Chian Natural History Museum National University of Singapore (NUS), peneliti antara lain mengidentifikasi spesies kecoak Bathynomus raksasa. Kecoak Bathynomus raksasa adalah pertama kalinya genus Bathynomus dikumpulkan di perairan Indonesia dan juga salah satu yang terbesar yang diketahui oleh sains. BESTPROFIT


Kebanyakan isopoda laut dalam memiliki panjang kurang dari 10 milimeter, dengan pengecualian isopoda raksasa dari genus Bathynomus yang dapat tumbuh hingga setengah meter. Isopoda raksasa ini menunjukkan gigantisme laut dalam, di mana beberapa hewan yang ditemukan di laut dalam cenderung jauh lebih besar daripada kerabatnya di perairan dangkal. Spesies isopoda raksasa baru dideskripsikan dari dua spesimen, jantan dan betina, dikumpulkan di lepas pantai selatan Jawa Barat di Indonesia, dari kedalaman antara 950 dan 1.260 meter selama SJADES 2018.

Adalah Conni Margaretha Sidabalok, peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI bersama Helen P.-S. Wong dan Peter K.L.Ng yang telah menuliskan hasil temuannya itu di ZooKeys, edisi 8 Juli 2020. Judulnya, “Description of the supergiant isopod Bathynomus raksasa sp. nov. [Crustacea, Isopoda, Cirolanidae] from southern Java, the first record of the genus from Indonesia.” Dalam jurnal tersebut, merujuk pada ukuran tubuh sang kecoak yang masuk kategori besar [giant] dan sangat besar [super giant]. Hewan yang ditemukan di Selat Sunda dan selatan Pulau Jawa itu panjangnya bisa lebih 15 sentimeter saat dewasa. Identifikasi Bathynomus raksasa dilakukan berdasarkan holotype jantan berukuran 363 milimeter dan paratype betina berukuran 298 milimeter. PT. BESTPROFIT

Secara umum, Bathynomus raksasa paling mirip dengan jenis Bathynomus giganteus dan juga Bathynomus lowryi. Terutama, dalam rentang ukuran dan karakter di bagian ekor atau pleotelson. Perbedaan mendasar dengan dua jenis tersebut terdapat pada karakter antena, organ ujung kepala, tekstur permukaan, serta duri ekor. Beberapa penelitian sebelumnya telah menemukan lima jenis Bathynomus berkategori super giant di Samudera Hindia dan Pasifik.

Fakta Kecoak Rasasa
Bathynomus merupakan ikon krustasea laut dalam dengan ukuran tubuh relatif besar dan tampilan keseluruhan yang khas. Tubuhnya pipih dan keras, walaupun tidak memiliki karapas atau cangkang keras yang melindungi organ dalam tubuh. Matanya besar dan pipih, serta memiliki jarak antara keduanya. Organ bagian kepalanya berupa sepasang antena panjang, sepasang antena pendek di ujung kepala, serta mulut dan anggota tubuh yang bermodifikasi sebagai alat makan di segmen bagian bawah kepala. Uniknya, Bathynomus memiliki tujuh pasang kaki jalan dan lima pasang kaki renang. Satwa ini merupakan “cleaner” alias pemakan sisa-sisa makhluk hidup di laut. Umumnya, yang dilahap adalah ikan, moluska, krustasea, beberapa karnivora dan herbivora yang tentunya ukurannya lebih kecil dari tubuh Bathynomus itu sendiri.

Untuk melihatnya, kita harus mendatangi tempat-tempat yang relatif sulit dijangkau di kedalaman 950 dan 1.260 meter Tanpa Bathynomus, sisa-sisa makanan yang berada di laut tentunya akan menjadi masalah baru karena tidak ada yang menghabiskan. Bila laut terganggu, tentu saja berdampak pada kehidupan manusia. Spesimen tersebut tidak dapat diidentifikasi ke tingkat jenis, karena karakter diagnostik jenis biasanya belum berkembang pada tahap pra-dewasa atau lebih muda. Pastinya, spesimen ini bukan Bathynomus raksasa karena ada perbedaan bentuk ekor, ekor samping, dan duri ekor.” Penemuan Bathynomus pertama dari laut dalam Indonesia tersebut disebut sangat penting bagi riset taksonomi krustasea laut dalam, mengingat langkanya riset seperti di Indonesia. PT. BEST PROFIT

Belum tentu endemik

Peneliti Senior di Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dwi Listyo Rahayu menyatakan 10 spesies baru yang ditemukan dalam Ekspedisi Keanekaragaman Hayati Laut Dalam Selatan Jawa 2018 (SJADES 2018) belum tentu endemik. Dia mengatakan baru satu spesies yang ternyata ditemukan di tempat lain usai ditemukan di laut selatan Jawa.

“Untuk saat ini dari 10 species baru tersebut, hanya ikan Chelidoperca flavolineata yang juga ditemukan di tempat lain. Walaupun demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa yang 9 lainnya adalah endemik,” ujar Dwi kepada CNNIndonesia.com, Jumat (18/9). Dwi mengatakan ketidakpastian itu terjadi karena penelitian terhadap perairan lain masih belum dilakukan. Sehingga, dia berharap dapat melakukan penelitian keanekaragaman jenis di lokasi yang lebih luas.

“Baik itu perairan pesisir maupun perairan dalam atau laut dalam,” ujarnya. Sama seperti status endemik, Dwi menyebut 10 spesies itu belum dapat dipastikan dalam kondisi terancam punah. Dia kembali mengatakan hal itu harus melalui penelitian lebih lanjut sebelum terkena dampak perubahan iklim atau polusi.

“Kita memang harus melakukan penelitian untuk mengungkap keragaman jenis biota laut Indonesia sebelum punah karena adanya perubahan iklim ataupun polusi lainnya,” ujar Dwi. BEST PROFIT

Sumber : cnnindonesia

Tinggalkan Balasan