Best Profit Futures Banjarmasin

Cara Virus Corona Bermutasi dari Hewan Hingga Manusia

PT. BESTPROFIT FUTURES

ea4f6a5f-4c32-4b31-a3ce-376e506da8a7_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Peneliti mengungkap alasan bagaimana virus corona yang bermula dari hewan bisa bermutasi dan menginfeksi manusia. Sebab, sebenarnya virus corona atau Covid-19 merupakan jenis virus yang menginfeksi binatang. Untuk bisa menginfeksi manusia dan menyebabkan penularan antar manusia, virus ini perlu bermutasi terlebih dulu. Peneliti Senior Pusat Studi Primata IPB, Joko Pamungkas menyatakan virus yang menyerang manusia terdiri dari virus DNA dan RNA. Virus DNA berasal dari manusia, sementara virus RNA berasal dari binatang. BESTPROFIT
Joko menyebut ketika virus RNA (ribonucleic acid) masuk ke tubuh manusia, antibodi tidak bisa mengenali virus tersebut. Menurutnya, virus RNA tidak bisa dikenali antibodi karena bermutasi saat berada di dalam tubuh manusia.

“Secara umum virus kelompok RNA itu akan bermutasi dan tidak dilakukan koreksi terhadap mutasi tersebut. Sehingga manusia atau hewan yang harusnya memiliki antibodi cukup tapi dia tidak kenal lagi terhadap virus itu yang bermutasi,” ujar Joko di Gedung Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Jakarta, Rabu (12/2).

Menurut History of Vaccine, virus RNA lebih cepat bermutasi ketimbang virus DNA. Sebab, molekul DNA lebih stabil dari RNA. Selain itu saat proses reproduksi, virus DNA perlu melalui proses pengecekan dan koreksi. Biasanya mereka menggunakan sel inang untuk melakukan verifikasi ketika melakukan replikasi DNA. Fungsinya agar sel inang bisa membantu mengoreksi ketika virus membuat kesalahan ketika menyalin DNA asli. Sehingga, virus DNA tidak bermutasi secepat virus RNA.  PT. BESTPROFIT

Sementara virus RNA tidak stabil dan tidak memiliki proses pengecekan dan koreksi seperti virus DNA. Mereka kerap melakukan kesalahan ketika mereplikasi RNA asli. Tak seperti virus DNA, sel inang yang dihinggapi virus pun tak membantu mengoreksi kesalahan ini. Akibatnya, sangat sering berubah dengan kata lain bisa bermutasi sangat cepat dan punya konsekuensi yang parah terhadap mereka yang terinfeksi.

Senada, Joko menuturkan virus RNA berbeda dengan virus DNA yang memiliki mekanisme mengkoreksi atau memperbaiki mutasi. Sehingga, dia berkata ketika terjadi translasi atau pembentukan protein, virus DNA yang bisa menyebabkan perubahan protein bisa dikoreksi sebelumnya.

Lebih lanjut, Joko menyampaikan mutasi pada virus RNA membuat perubahan terhadap protein atau berubah dari virus awalnya. Contohnya, dia berkata antibodi di manusia atau hewan pada infeksi awal bisa mengenali virus.

“Nah saat bereplikasi di dalam sel dia akan terjadi mutasi. Kemudian mutasi itu tidak dikoreksi sehingga waktu membentuk bagian-bagian komponen, misalkan enveloped-nya virus, bagian yang akan menempel ke sel itu akan berubah,” ujar Joko. PT. BEST PROFIT

“Termasuk antibodi yang tadinya mengenali si virus itu, katakanlah mengenakan baju hijau, begitu keluar sudah bukan jaket hijau lagi. Sudah berubah enveloped-nya,” ujarnya.

Mutasi virus yang sangat cepat ini, membuat antibodi kesulitan mengenali virus-virus yang sudah berubah itu. Sehingga, antibodi yang sudah dibentuk untuk melawan virus yang pertama masuk dan sudah dikenali, tidak lagi efektif memerangi virus baru yang sudah berubah identitas itu. Hal ini yang menyebabkan antibodi sulit memerangi virus-virus yang terus bermutasi itu. Akibatnya, efek sakit pada manusia kian parah. Saat ini virus corona Covid-19 sendiri sudah membunuh ribuan orang.

Joko mengetahui tidak mengetahui secara persis kecepatan mutasi virus corona. Akan tetapi dia menyebut ada kemiripan dengan virus HIV yang memiliki kecepatan mutasi yang begitu besar. Di sisi lain, Joko menyebut manusia belum tentu tertular virus corona karena memakan kelelawar. Dalam penelitian Minahasa, dia menyebut masyarakat tidak tertular virus corona karena memasak kelelawar hingga benar-benar matang.

“Tapi kita juga mesti lihat sisi konservasi di mana kita perlu melestarikan kelelawar yang memiliki fungsi ekosistem,” ujar Joko. Joko menambahkan ada inang alami dan inang fatal. Dia menyebut inang alami adalah hewan yang terinfeksi oleh suatu mikroorganisme tanpa menjadi sakit atau menunjukkan gejala klinis yang signifikan. BEST PROFIT

“Sedangkan inang fatal adalah hewan atau manusia yang apabila terinfeksi suatu mikroorganisme menunjukkan gejala klinis,” ujarnya.

Sumber : cnnindonesia