Best Profit Futures Banjarmasin

Perjalanan Panjang Penerapan TV Digital di Indonesia

PT. BESTPROFIT FUTURES

implementasi-validasi-imei-ponsel-2_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – UU Cipta Kerja Omnibus Law mendorong migrasi ke TV digital dengan mematikan TV analog secara keseluruhan atau (analog switch off/ ASO). Dalam ayat 2 pasal 60A disebutkan bawah migrasi penyiaran televisi terestial dari teknologi analog ke teknologi digital sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan penghentian siaran analog (analog switch off) diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak UU Ciptaker ditandatangani Presiden Joko Widodo dan diundangkan. Perjalanan panjang ini sesungguhnya dimulai sejak 1997. Gagasan perubahan TV analog ke TV digital saat itu dalam format 1997. Kemudian pada 2004 dilakukan migrasi dari analog telah dilakukan. BESTPROFIT


Lebih lanjut, pemerintah menetapkan standar Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVBT) juga telah dilakukan pada 2007. Saat itu pemerintah melakukan uji coba DVBT untuk format siaran digital. Pada 2009, di era Menkominfo Muhammad Nuh, pemerintah mengeluarkan Roadmap infrastruktur TV digital disusun sebagai peta jalan bagi implementasi migrasi dari sistem penyiaran televisi analog ke digital di Indonesia. Peta jalan ini dimulai sejak awal 2009 sampai dengan akhir 2018. Sebagai dukungan regulasi terhadap implementasi penyiaran TV digital, pada 2009 pemerintah menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 39 tahun 2009 tentang Kerangka Dasar Penyelenggaraan Penyiaran TV Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (free-to-air). PT. BESTPROFIT

November 2011, di era Menkominfo Tifatul Sembiring pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 22 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (free- to-air) sebagai pengganti Permen Kominfo No. 39/2009. 1 tahun kemudian, Kemenkominfo menelurkan peraturan Menteri Kominfo No. 05 tahun 2012, mengadopsi standar penyiaran televisi digital terestrial Digital Video Broadcasting – Terrestrial second generation (DVB-T2) yang merupakan pengembangan dari standar digital DVB-T yang sebelumnya ditetapkan pada 2007.

Akan tetapi, upaya ASOl terus kandas arena gagalnya kehadiran legislasi berupa Undang-undang di bidang penyiaran. Padahal berbagai negara telah mematikan TV analog. International Telecommunication Union (ITU) dalam konferensi ITU 2006, telah memutuskan bahwa 119 negara ITU Region-1 menuntaskan ASO paling lambat 2015. Demikian pula pada konferensi ITU 2007 dan 2012, pita spektrum frekuensi radio UHF (700 MHz) semula untuk televisi terestrial ditetapkan menjadi layanan mobile broadband. Sedangkan di tingkat regional terdapat Deklarasi ASEAN untuk menuntaskan ASO di 2020. Penyiaran digital di Indonesia tertinggal dibandingkan negara-negara lain, termasuk dari negara tetangga seperti, Malaysia hingga Brunei Darussalam. PT. BEST PROFIT

Negara-negara itu mengalihkan TV analog ke penyiaran digital atau ASO ini sudah dilakukan beberapa negara karena TV analog dianggap boros frekuensi. Brunei sudah ASO pada 2017, Singapura 2019, Malaysia 2019, Vietnam, Thailand, dan Myanmar akan ASO 2020. Angin segar ketika UU Ciptaker digodok Presiden Joko Widodo. Dalam UU Ciptaker, tercantum ayat 2 Pasal 60A menyebutkan TV analog akan dimatikan dalam 2 tahun ke depan bila dimulai tahun ini.

“Disampaikan menteri bahwa ASO ini 2 tahun. Jadi kalau misalkan 5 November ditanda tangan presiden, berarti Indonesia akan hentikan siaran analognya pada 5 November 2022,” kata Direktur Penyiaran Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemkominfo, Geryantika Kurnia. Kemenkominfo menyebut penyiaran digital bukan hanya persoalan soal penyiaran, tapi juga menyangkut bagaimana memanfaatkan ekonomi komunikasi di masa depan dan teknologi di masa depan. TV analog membutuhkan 8 MHz per satu stasiun televisi, sementara untuk 10 MHz bisa digunakan untuk menggelar jaringan 4G yang bisa dipakai atau mencakup jutaan orang.

TV analog boros frekuensi sehingga frekuensi yang tersedia agar masyarakat bisa akses internet menjadi sedikit. Padahal saat ini di era digital, Internet sangat dibutuhkan masyarakat. TV analog banyak memakan pita frekuensi 700 MHz sebanyak 328 MHz. Ia mengatakan apabila TV analog beralih ke digital, maka hanya dibutuhkan 176 MHz bagi stasiun televisi. Indonesia bisa mengalokasikan 112 MHz yang bisa digunakan untuk keperluan lain. Indonesia juga akan memiliki cadangan 40 MHz yang bisa digunakan untuk perkembangan teknologi di masa depan. BEST PROFIT

Sumber : cnnindonesia