Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – Waspadai ragam modus kejahatan jelang puasa

1024x680_0_0_1024_680_bf09a7194b5f6f26da9a614c7c749e85ed6f3ffc

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Bulan Ramadan tidak lama lagi. Jelang puasa, ragam kejahatan pencurian tumbuh subur.

Menurut Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Moechgiyarto, telah terjadi peningkatan kejahatan jelang Ramadan. Peningkatan itu, kata Moechgiyarto, terutama terjadi dalam kasus konvensional seperti ‘3C’ yakni Curas (pencurian dengan kekerasan), Curat (pencurian dengan pemberatan), dan Curanmor (pencurian kendaraan bermotor).

Pada pekan ke 19, tingkat kejahatan dari jenis 3C ini naik kurang lebih 20 persen. Untuk pekan terakhir, belum diketahui apakah ada kenaikan. “Minggu ini belum kami evaluasi,” ujarnya.

Kenaikan kejahatan jenis ini, menurut Moehgiyarto banyak faktornya. Salah duanya, faktor ekonomi dan juga peningkatan operasi kepolisian. “Operasi Pekat, kejahatan meningkat karena banyak yang kita tangkap, itu juga bisa berpengaruh,” ujarnya.

Jenis kejahatan lain adalah peredaran uang palsu. Seiring naiknya kebutuhan masyarakat di bulan puasa, aktivitas ekonomi juga makin meningkat. Meningkatnya aktivitas jual beli ini kerap dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab untuk mengedarkan uang palsu.

Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono polisi bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk merazia uang palsu. Kepala Divisi Penanggulangan Uang Palsu BI, Hasiholan Siahaan mengatakan, kejahatan uang palsu sudah dalam tahap mengkhawatirkan.

Karenanya, Hasiholan menyarankan masyarakat, agar tidak menggunakan transaksi tunai jika hendak bertransaksi dalam jumlah besar. Karena jumlah besar, pendeteksian uang palsu susah dilakukan. “Lebih baik melalui transfer atau cek.

Hasiholan menyatakan, rasio uang palsu pada 2014 adalah sembilan per sejuta lembar uang yang beredar di masyarakat.

Data statistik pun menunjukkan peredaran uang palsu kian meningkat. Pada 2014, ditemukan 120.417 lembar uang palsu. Setahun kemudian naik jadi 319.641 lembar atau rasionya jadi 21 lembar per sejuta lembar. Tahun 2015, Hasiholan menjelaskan peredaran uang palsu tertinggi ada di Jawa Timur lalu disusul Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten dan Bali. “Hingga Maret tahun ini, 55.441 lembar uang palsu, itu sudah empat lembar dalam satu juta lembar,” katanya.

Sosiolog dari Universitas Airlangga, Surabaya Profesor Mustain meyakini angka kriminalitas masih akan terus naik. Menurutnya, kenaikan ini seiring dengan tingkat kebutuhan yang juga naik. Terlebih saat ini antara puasa, hari raya, pendaftaran sekolah datang hampir bersamaan.

“Saya rasa akan tetap terjadi, jika melihat kondisi seperti sekarang masih banyak pengangguran, PHK, maupun tenaga kontrak,” ujarnya seperti dikutip dari Koran Sindo.

Faktor yang mendasari orang nekat melakukan kriminalitas, menurut Mustain, salah satunya ingin mencukupi kebutuhan hidup dan menunjukkan eksistensi.

“Bulan seperti ini, sering orang menunjukkan eksistensi. Ingin dianggap mampu sesuai ukuran orang yang melihatnya,” ujarnya. Karena tak ingin dianggap tidak mampu dan panik, mereka nekat, termasuk melanggar hukum.

sumber : beritagar.id