Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – Warisan Warkop di lelucon Mukidi

BESTPROFIT

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Dari rumah di Perumahan Jatibening 1, Kelurahan Jatibening, Kecamatan Pondokgede, Kota Bekasi, dia mampu membikin Indonesia tersenyum. Kisah jenaka dengan menampilkan tokoh rekaan Mukidi itu saat ini tengah naik daun.

Humor itu tersebar luas di dunia maya. Otak di baliknya adalah Soetantyo Moechlas (62). Dia pensiunan perusahaan farmasi terkemuka, Boehringer Ingelheim, yang buka cabang di Indonesia, tepatnya di Lawang Gintung, Kota Bogor.

Tantyo, nama pendeknya, mengaku sudah lama bergelut dengan Mukidi. Menurut dia, ide itu muncul sejak 1990-an. Mukidi juga mau-maunya dibuatkan jalan cerita oleh Tantyo. Di dalam khayalannya, sang tokoh sudah beristri bernama Markonah. Anak mereka ada dua, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran masih sekolah dasar. Padahal ini sudah era milenium, mestinya umur mereka bertambah tua. Namun buktinya tidak. Maklum, ini hanya cerita fiktif. Tantyo pun sudah meminta maaf jika ada orang tersinggung atas kisahnya. Termasuk kepada Mukidi sebenarnya.

Tantyo juga berbaik hati kepada Mukidi. Dia diceritakan punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Mukidi diberi teman, Wakijan, Sukilah, Wakilah, Martokapiran, Kartomengkono, supaya mereka bisa saling bertukar banyolan.

“Nama Mukidi itu gampang diingat, dan itu sangat jawa,” kata Soetantyo saat ditemui di kediamannya kemarin. – PT Bestprofit Futures

Nama tokoh-tokoh itu semua berbau Jawa khususnya, Jawa Tengah, sebab mengingatkan Tantyo akan daerah asalnya.

Guyonan Mukidi juga sudah dibukukan oleh Tantyo enam tahun lalu. Meski kini ceritanya banyak digubah, toh dia tak pernah marah. Mungkin dia menyadari hal itu lantaran Mukidi tak dipatenkan.

Tantyo tak sungkan mengakui dari mana dia mendapat inspirasi kisah komedi Mukidi. Idenya terbersit ketika nama tokoh fiktif itu muncul dalam acara Warung Kopi besutan Dono, Indro, Kasino, Nanu, dan Rudi Badil, disiarkan Radio Prambors, Jakarta. Acara mereka pada 1980-an memang selalu ditunggu-tunggu saban malam.

Dalam siaran, kelima orang itu kerap bermain peran. Kasino kerap kebagian menjadi warga Betawi, Jawa, atau Bali. Kemudian Indro diberi tugas sebagai anak perkotaan, Betawi, Batak, dan Jawa. Dono dan Nanu saat itu sudah punya gaya tak bisa diganggu gugat, yakni menjadi karakter Slamet (Jawa) dan Poltak (Tapanuli). Sedangkan Rudy Badil biasa bergaya sebagai orang asing.

Nama-nama tokoh pun terkadang muncul secara spontan sepanjang acara. Saat nama disebut, seketika mereka harus memerankannya. Begitu juga di dalam lawakan direkam dalam kaset.

Pengaruh kelompok Warkop kini sudah ditinggal pergi selamanya oleh tiga personel, yakni Dono, Kasino, Nanu, memang sangat luas. Banyolan mereka seakan tak tergerus zaman, meski kelompok lawak datang silih berganti. – merdeka.com

(Mr-Pt Bestprofit futures)