Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – Sesajen demi tembakau terbaik

BESTPROFIT

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Warga Desa Losari, Kecamatan Tlogomulyo, Kabupaten Temanggung masih memegang teguh tradisi warisan leluhur sebagai cara menjaga keseimbangan kehidupan. Bagi mereka, penting untuk tetap bersinergi dengan alam yang memberi kehidupan. Sebagian besar warga Desa Losari menganut agama Islam. Tapi mereka masih melakukan beragam ritual kejawen. Ini sebagai wujud nyata mempertahankan tradisi, sama sekali tak ada hubungannya dengan agama.

Baca Juga :

Sambil berkeliling menengok perkebunan tembakau warga, Wahoni, Kepala Dusun Tempuran, Desa Losari, Kecamatan Tlogomulyo menceritakan, ritual kejawen masih dijalankan dalam rangkaian proses produksi tanaman tembakau. Mulai dari pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Sebelum memulai penanaman tembakau, Wahoni selalu membuat bubur merah putih di rumahnya. Bubur itu kemudian dibawa ke lahan yang akan ditanam biji tembakau.

“Minta perlindungan supaya tanamnya baik, hasilnya baik, lancar. Kalau (orang) Jawa asli, kejawen, masih percaya itu. Ya kepercayaan masing-masing. Saya sampai sekarang masih percaya kejawen,” ungkap Wahoni saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Ritual itu untuk meminta leluhur menjaga tanaman tembakau agar bebas dari gangguan tangan-tangan nakal yang merusak. Melindungi dari perilaku atau sifat manusia yang tak pernah puas dan mudah iri akan keberhasilan orang lain. Biasanya Wahoni membuat dua piring bubur merah putih kemudian ditaruh dan ditinggal di lahannya seluas 300 meter persegi yang berada di atas bukit.

Selang beberapa hari, biasanya sesajen itu sudah habis tak tersisa. Dimakan oleh siapa saja yang kelaparan saat menggarap lahan. Sesajen yang disiapkan beragam. Tidak hanya bubur merah putih. “Ada rokok, ikan laut dibakar, nasi dibakar. Ada juga yang bawa bunga. Ya tergantung keyakinan saja,” imbuhnya.

Warga masih memegang teguh tradisi memberi sesajen karena merasakan keuntungannya. Tanahnya menjadi subur dan menghasilkan tembakau dengan kualitas terbaik yang dikenal dengan sebutan Srintil. Harganya bisa mencapai Rp 1 juta per kilo. Ada beberapa tingkat untuk mengukur kualitas tembakau. Tembakau kualitas I adalah yang terbaik, yaitu Srintil.

Tembakau kualitas A justru yang paling buruk, daunnya masih hijau karena daun pertama yang dipetik saat musim panen. Tembakau kualitas B tak jauh berbeda dengan A, masih berwarna hijau agak kekuningan. Kualitas di atasnya yaitu C, dengan daun tembakau berwarna kuning polos. Tembakau kualitas D sudah sedikit lebih baik dengan daun berwarna kuning agak kemerah-merahan. Tembakau kualitas E terlihat dari warna daun yang merah agak hitam. Ada juga yang berwarna kuning hitam. Untuk tembakau kualitas ini harganya berkisar Rp 100.000-150.000 per kilo. Tembakau kualitas F mulai baik dengan warna daun merah hitam. Harganya sekitar Rp 200.000-250.000.

Warga percaya ada campur tangan, sentuhan leluhur dan alam dalam menghasilkan tembakau berkualitas. Ada beberapa warga yang masih melakukan ritual kejawen. Mereka menyambangi tuk budoyo, sumber mata air dari Gunung Sumbing. Letaknya tak jauh dari lahan perkebunan tembakau milik warga. Di sana mereka melakukan ritual mandi untuk membersihkan diri. Ada yang melakukannya sebelum tanam, ada juga yang setelah panen.

“Mereka membawa kembang, menyan, dan jajan pasar. Setiap malam jumat bersemedi di sini (Tuk Budoyo).” – Pt Bestprofit Futures

Ritual di Tuk Budoyo umumnya untuk memohon kelancaran dalam berkesenian tradisional sebelum dimulainya masa tanam. Di tempat ini selalu dilakukan kirab budaya setiap satu suro dalam penanggalan Jawa. Sebelum melakukan kesenian, mereka mandi dan bersemedi. Cara ini seperti yang dilakukan eyang cantrik. Menurut kepercayaan warga, eyang cantrik adalah punggawa Sultan Mataram I. Dia bersemedi di Tuk Budoyo untuk menambah kesaktian. Tapi dikisahkan dia tidak pernah turun dan tempat ini menjadi keramat.

Setelah musim panen tiba, warga menggelar acara syukuran besar-besaran. masing-masing warga membuat tumpeng yang dibagikan ke tetangga sebagai bentuk ungkapan syukur berakhirnya masa tanam dan pemeliharaan tanpa ada kejadian yang tak diinginkan. Dari sini terlihat jelas kuatnya unsur tradisi dan kebudayaan dalam pertanian tembakau masyarakat kaki Gunung Sumbing.

Budayawan Mohamad Sobary menilai, semua itu bagian dari keseluruhan tradisi, mitologi, sejarah lisan, nilai-nilai kearifan, cara pandang dan sikap petani menghadapi kehidupan. Itu semua disebut sebagai bagian dari proses produksi tembakau. Karena tembakau menciptakan tradisi dan sebaliknya ada tradisi dalam proses menciptakan tembakau. Tradisi kejawen yang dilakukan warga memberi cerminan harapan agar menghasilkan tembakau terbaik. “Ada doa yang dibacakan supaya tanaman aman, tumbuh subur dan tidak ada hambatan,” katanya.

Tradisi jelas terlihat saat masa panen. Pemetikan daun pertama dirayakan seluruh desa dengan mengundang banyak pihak untuk menyaksikan hasil panen. Ada sesajen menggambarkan sistem kepercayaan yang dianut dengan baik oleh para petani. Ada lantunan doa dari tokoh agama. Sesajen menggambarkan tradisi tentang mitologi, kisah pada awal mulanya ditemukan bibit tembakau.

Bibit itu kemudian dibudidayakan menjadi tembakau. Warga sama-sama memiliki semangat menjaga itu semua. Ketika dipanen dan daunnya dirajang atau dipotong-potong menjadi tembakau, ada tradisi lain yang masih berlaku. Daun yang dijemur didoakan secara khusus supaya laku ketika dipasarkan atau dijual. Bahkan tidak boleh ada yang pegang sebab ada sesuatu yang dianggap larangan.

Tak hanya di Temanggung, warga Dusun Gopaan, Desa Genito, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, juga masih merawat tradisi peninggalan leluhur mereka yakni pernikahan tembakau. Setiap bulan Sapar dalam penanggalan jawa, sepasang pengantin diarak keliling desa dengan diiringi alinan suara gending jawa dan tetabuhan kesenian kuda lumping dan sesajen. Sepasang pengantin itu membawa dua tanaman tembakau yang diberi nama Kiai Pulung Soto dan Nyai Srinthil dibawa.

Mereka diarak menuju tempat yang bernama Sendang Gopaan, sumber mata air warga. Sesampai di tempat itu, sesepuh desa meminta izin kepada Sang Pencipta dan penunggu mata air untuk melakukan prosesi ritual di mata air tersebut. Prosesi pernikahan tembakau pun digelar di tempat itu. Kiai Pulung Soto dan Nyai Srinthil dijadikan satu dan dicelupkan ke mata air sendang Gopaan.

Mulut pimpinan ritual komat kamit membaca mantra sambil menaburkan kembang ke dalam air sendang. Ritual nikah tembakau dilanjutkan dengan persembahan seajen berupa tumpeng lengkap dengan ingkung (ayam kampung). Prosesi ditutup dengan pementasan kesenian selama semalam suntuk di tengah Dusun Gupaan. Kesenian yang ditampilkan antara lain jathilan, wayang kulit dan lainnya.

Warga masih percaya, ritual prosesi pernikahan ini bakal menghasilkan tembakau berkualitas. Ritual ini sekaligus ungkapan syukur warga atas karunia Tuhan berupa tanaman tembakau yang melimpah sebagai sumber kehidupan warga.

“Jadi dengan kata lain, proses produksi dari pembibitan, panen, sampai jual, dilingkupi, dibingkai yang namanya kebudayaan petani. Bingkai kebudayaan secara luas. Kebudayaan menentukan proses produksi tembakau,” jelasnya.

Terlepas dari kebudayaan dan mitos serta tradisi kejawen, tembakau berkualitas bisa terwujud tergantung letak geografis lahan dan faktor cuaca. Biji tembakau yang ditanam di lahan yang menghadap timur Gunung Sumbing akan mendapat sinar matahari pagi terbaik yang menghasilkan tembakau kualitas terbaik atau Srintil. Sementara bibit yang ditanam di lahan sebelah utara atau paling banyak mendapat sinar matahari siang kualitasnya di bawah Srintil. Bibit yang ditanam di lahan sebelah barat sama sekali tidak mendapat sinar matahari maka hasilnya pun bisa dipastikan kurang bagus.

Tradisi menyediakan tumpeng, sesajen atau menggelar upacara ritual tertentu sebelum masa tanam dan sesudah panen tidak hanya dilakukan petani tembakau Pulau Jawa. Masyarakat di daerah lumbung tembakau nasional juga melakukan itu. Budaya semacam ini sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat petani tembakau.

“Semangatnya kan tanaman ini memberikan kehidupan, mereka dapat hidup dari tanah itu maka selayaknya memberikan sesuatu kepada alam yang telah memberikan sesuatu kepada mereka,” ujar Alfa dari Komunitas Kretek, akhir pekan lalu. – merdeka.com

(Mr-Pt Bestprofit futures)