Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – Mengapa Anda Butuh Kompetitor?

Kompetisi_tempo

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Menjadi pemain tunggal di arena bisnis tertentu mungkin terasa menyenangkan: tanpa pesaing yang setara, dapat menetapkan harga nyaris sesuka hati, serta menawarkan pilihan yang sukar ditolak konsumen. Bukankah kita, sebagai konsumen, kadang-kadang mengeluh: “Mau bagaimana lagi, di pasar hanya ada produk merek X.” Pendeknya, pemain tunggal berlaku bak raja yang titahnya sukar ditampik. Namun, dalam jangka panjang, apakah ini sehat bagi sang pemain tunggal?

Saya teringat kisah tentang Steve Jobs dan Bill Gates di saat masih relatif muda. Sekembalinya dari pengasingan dari Apple, Jobs kembali ke perusahaan yang ia dirikan dan mendapati Apple dalam keadaan porak poranda. Bisnis merosot, produk tidak laku, dan ia jadi harapan untuk menghidupkan kembali ruh Apple. Saat itu, Gates terus menapaki jenjang kesuksesannya bersama Microsoft.

Setelah sempat bertengkar, Jobs menelpon Gates dan menawari kawan sekaligus kompetitornya dalam ambisi untuk menanam modal di proyek Apple. “Ayolah, kamu tahu kamu tetap perlu kompetitor dan tak mungkin berjalan sendiri,” ujar Jobs kepada Gates. Ketika itu, Microsoft memang tengah dituding memonopoli industri komputer dengan Windows andalannya. Akhirnya, Gates bersedia menyuntik Apple agar proyek baru Gates bisa berjalan—inilah coopetition.

Sukses dalam bidang apapun memang berpulang pada kemampuan diri sendiri dalam mengendalikan kekuatan dan kelemahan kita. Namun, persaingan yang sehat tetap diperlukan agar kita tidak terlena oleh keberhasilan. Gates memerlukan Apple yang bangkit kembali dari keterpurukannya, bukan saja karena alasan untuk membantah tudingan monopoli, tapi juga untuk kemajuan jangka panjang Microsoft.

Ada sejumlah alasan mengapa kompetisi yang sehat diperlukan oleh siapapun, dalam bisnis sekalipun. Pertama, kehadiran kompetitor akan menyediakan pilihan bagi konsumen dalam menentukan produk dan jasa yang hendak mereka beli dan gunakan. Tuntutan konsumen akan mutu yang sangat baik menjadi dorongan bagi pelaku pasar untuk memperbaiki produk dan jasa mereka.

Jika Anda satu-satunya pemain di pasar yang besar, sulit bagi Anda untuk lebih maju lagi. Ada kecenderungan untuk berpuas diri. Begitu pula, jika Anda berada di pasar yang penuh sesak, Anda tidak akan melejit jika melakukan sama seperti yang orang lain kerjakan. Kompetisi yang sehat akan memaksa Anda untuk membuat perbedaan dengan memperbarui teknologi, mendesain ulang produk, atau memperbaiki pengalaman konsumen.

Kedua, kompetisi akan mendorong Anda memahami pasar dengan lebih baik. Anda ingin tahu dengan lebih baik preferensi pelanggan. Anda dipaksa untuk fokus untuk menemukan jawaban: “Apa yang paling dibutuhkan dan diinginkan pasar ini?” Berbekal pemahaman yang lebih baik, Anda berpotensi untuk memperbaiki pula layanan. Jika pesaing berhasil menciptakan keuntungan lebih besar dibanding Anda, ini berarti pesaing telah mengadopsi teknik-teknik yang lebih hebat dalam menarik pelanggan. Mungkin saja itu harga yang lebih murah dan layanan yang lebih baik.

Tanpa pesaing, Anda sangat mungkin tidak menaruh perhatian yang memadai terhadap layanan konsumen. Konsumen terlambat menerima produk, Anda acuh tak acuh, sebab Anda tahu konsumen tak punya pilihan. Namun, kompetisi memaksa Anda untuk terus meningkatkan mutu layanan atau konsumen akan beralih ke kompetitor.

Ketiga, dari sisi lain, kompetisi akan menggeloarkan semangat Anda dan tim untuk memacu diri. Jika Anda membawa perusahaan untuk terus berinovasi dan memperbaiki diri, karyawan akan berani untuk mendorong diri mereka melangkah lebih jauh. Mereka tidak akan puas terhadap prestasi yang sudah diraih dan menginginkan lebih baik lagi.

Kompetisi membuat Anda dan tim bertindak lebih proaktif, waspada, kreatif, dan fokus. Semua ini dilakukan bukan karena terpaksa, melainkan dengan penuh kegembiraan. Anda akan mencari cara-cara yang lebih baik dalam memuaskan pelanggan. Tim Anda termotivasi untuk menemukan sesuatu yang baru.

Keempat, kompetisi memfasilitasi diferensiasi produk dan jasa. Kampanye iklan seperti ‘Kami berusaha lebih cerdas’ dapat berhasil bila ada pembanding. Tanpa membandingkan sejumlah pemain, pelanggan mungkin tidak memerhatikan keunggulan suatu produk atau jasa, sehingga ekspektasi mereka tidak meningkat. Jadi, keunggulan kompetitif kadang-kadang ditetapkan dengan sangat baik melalui de-positioning mereka-merek lain. Pelanggan akan belajar menentukan ini produk kelas 1, yang itu kelas 2, dan sisanya kelas 3.

Kelima, kompetisi juga menguntungkan pelanggan, sebab pelanggan dapat merasa lebih percaya diri dan nyaman dalam menentukan pilihan. Mereka tahu, apabila tidak puas dengan produk tertentu, mereka dapat beralih ke produk lain. Situasi ini jauh lebih baik ketimbang pasar yang monopolistik, karena pelanggan tidak ditawari pilihan yang beragam.

Keenam, demi kemanfaatan jangka panjang, kompetisi yang sehat akan menguatkan ekosistem bisnis. Ketika ada banyak pemain dalam suatu industri, ada kebutuhan bagi para pemain untuk dapat berkembang—mereka butuh pemasok bahan, tenaga ahli, agen-agan penjual, dan sebagainya. Dengan kompetisi yang ketat, semakin tidak mudah bagi pelaku bisnis untuk menjawab tantangan sendiri tanpa kerjasama dengan pihak lain.

Tentu saja, tidak semua kompetisi pasti bagus. Pada titik tertentu kompetisi dapat mengacaukan pasar dan membingungkan konsumen. Oleh sebab itu, kompetisi harus dijaga agar tetap berlangsung secara sehat.

sumber : indonesiana.tempo.co