Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – Hati-hati, Jangan Asal Pakai Antibiotik

Obat

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Hasil penelitian tim yang dipimpin oleh Jim O’Neill tentang urgensi untuk mengkaji ulang peredaran antibiotik yang ada saat ini sudah sepatutnya menjadi perhatian semua lapisan masyarakat. Dilansir BBC, laporan tersebut memperkirakan 10 juta orang tewas, karena bakteri kebal antibiotik, superbugs, pada 2050.

O’Neill berharap, pihak-pihak berwenang bisa mengontrol penggunaan antibiotik yang tidak diperlukan. Sementara itu, pihak lainnya mencari cara untuk menciptakan antibiotik yang baru yang lebih kuat.

Spesialis Mikrobiologi Klinik, dr. Leonardus Widyatmoko, SpMK, mengatakan perlu adanya pemahaman dari masyarakat tentang penggunaan antibiotik ini.

“Edukasi pada pasien diperlukan, karena tak jarang, pasien memaksa untuk diberikan antibiotik. Padahal, tidak semua penyakit diobati dengan antibiotik,” ujarnya saat dihubungi VIVA.co.id.

Leo melanjutkan, terdapat enzim di dalam superbugs yang bisa melemahkan kerja antibiotik. Ini diakibatkan oleh kebiasaan dalam menggunakan antibiotik yang tidak pada tempatnya dan tanpa ada aspek rasional.

Bahkan, kondisi ini diperparah dengan penggunaan antibiotik pada hewan ternak sebagai growth hormon yang menyebabkan terjadinya pertukaran gen pembawa resistensi, dari kuman superbugs yang terdapat di hewan dengan mikrobiota yang terdapat di saluran cerna manusia, saat manusia memakan dagingnya.

Dokter yang juga staf pengajar Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ini menambahkan, kasus ini sudah menjadi perhatian dunia, termasuk pemerintah Indonesia. Lewat Komite Penanggulangan Resistensi Antimikroba, diharapkan bisa meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dan mengontrol penggunaan antibiotik di rumah sakit dan komunitas.

“Edukasi pada pasien diperlukan, karena tak jarang, pasien memaksa untuk diberikan antibiotik. Padahal, tidak semua penyakit diobati dengan antibiotik,” ujarnya saat dihubungi VIVA.co.id.

Leo melanjutkan, terdapat enzim di dalam superbugs yang bisa melemahkan kerja antibiotik. Ini diakibatkan oleh kebiasaan dalam menggunakan antibiotik yang tidak pada tempatnya dan tanpa ada aspek rasional.

Bahkan, kondisi ini diperparah dengan penggunaan antibiotik pada hewan ternak sebagai growth hormon yang menyebabkan terjadinya pertukaran gen pembawa resistensi, dari kuman superbugs yang terdapat di hewan dengan mikrobiota yang terdapat di saluran cerna manusia, saat manusia memakan dagingnya.

“Para dokter sebaiknya tidak salah penggunaan antibiotik (misused). Tidak memberi dosis yang kurang (underused), maupun jenis antimikroba yang berspektrum terlalu luas (overused),” tutur pengurus kolegium PAMKI tersebut.

Selain itu, vaksinasi menjadi cara lain untuk mengatasi masalah ini. Dengan sistem kekebalan tubuh yang kuat, tak peduli seberapa kuat bakteri itu, maka tubuh akan mampu melawannya.

sumber : life.viva.co.id