Best Profit Futures Banjarmasin

BESTPROFIT – 4 Resiko kecerdasan buatan yang ancam umat manusia!

4-resiko-kecerdasan-buatan-yang-ancam-umat-manusia

PT BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN

Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence atau lebih mudah disebut A.I., sering dijadikan contoh betapa teknologi lama kelamaan akan jadi berbahaya bagi umat manusia. Meski contoh besarnya belum ada, namun gambaran tersebut sudah banyak divisualisasikan di film dan hal itu terasa nyata.

Tak hanya berbagai contoh seperti di film “The Terminator” dan “Wall-E,” bahkan CEO dari Tesla, Elon Musk juga mempunyai komentar tersendiri tentang keberadaan kecerdasan buatan yang menandai makin majunya teknologi. Sang CEO menyebut perkembangan kecerdasan buatan seperti “memanggil setan,” di mana perkembangan ini akan membahayakan umat manusia.

Namun penting juga untuk mengingat bahwa banyak sekali hal yang baik yang juga dibawa oleh kecerdasan buatan. Berbagai hal seperti meningkatnya informasi dan pendidikan, hingga membantu kehidupan kita sehari-hari, kecerdasan buatan tak bisa dihalau datangnya. Kita hanya perlu lebih was-was akan resiko yang turut serta dibawa oleh majunya teknologi ini. Berikut beberapa resiko dari kecerdasan buatan yang bisa mengancam kehidupan manusia.

1. Hilangnya pekerjaan

Dilansir dari Reuters, World Economic Forum mempublikasikan sebuah studi yang akan memprediksi hilangnya 5,1 juta pekerjaan dan hal ini akan terjadi di 15 negara maju.

Selain itu, berdasarkan penelitian Bank of America Marrill Lynch, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan dan China adalah lima negara maju yang pertumbuhan jumlah robotnya sangat pesat. Robot-robot tersebut mayoritas tergolong jenis robot operasional di kawasan industri yang tentu akan segera menggantikan buruh dan tenaga kerja manusia.

Namun terdapat solusi yang baik terhadap terjadinya hal ini. Mulai dari meningkatkan akses pendidikan agar kualitas SDM meningkat, hingga re-training bagi para pegawai agar terhindar dari eliminasi. Beberapa negara juga mencoba sistem “basic income,” di mana pemerintahnya akan melakukan distribusi pemasukan bagi rakyatnya agar per bulan mereka mendapat gaji, meski mereka tak bekerja. Hal ini diharapkan mendorong masyarakat untuk melatih kemampuan untuk bekerja yang memiliki lebih banyak komponen humanis, seperti pengajar serta manajer bisnis.

2. Teknologi terpusat

Resiko ini sebenarnya cukup ironis, karena meski perusahaan akan mengeliminasi pekerja ‘manusia’ yang ada di tubuh perusahaannya, namun pengembang kecerdasan paling banyak berada di Amerika Serikat, tepatnya Google serta Apple. banyak perusahaan teknologi atau perusahaan dari bidang lain yang tertinggal dan juga kalah dominasi dari dua raksasa teknologi tersebut.

Namun hal ini tentu bisa diatasi dengan transparansi kemajuan kecerdasan buatan oleh para pengembang besar. Harusnya jadi tanggung jawab bagi para perusahaan-perusahaan raksasa dan negara-negara maju dunia untuk memastikan bahwa perusahaan dan negara lain tidak tertinggal. Karena sejatinya bukanlah hal yang baik dan kompetitif jika ‘pemain’ lain tidak berjalan seiring dengan pemain yang lain.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan membuat kecerdasan buatan sebagai proyek open source. Elon Musk, sang CEO Tesla pun mendirikan dan mendanai OpenAI, sebuah organisasi non-profit untuk menjaga berbagai penelitian tentang kecerdasan buatan tetap bersifat open source dan tersedia bagi semua orang atau perusahaan yang menginginkannya.

3. Kecerdasan buatan menjadi ‘terlalu kuat’

Kecerdasan buatan diciptakan agar sebuah mesin bisa mempelajari sesuatu dan mereka bisa menyelesaikan tugas yang sebenarnya harus diselesaikan manusia. Hal ini sudah banyak sekali diaplikasikan ke mulai dari mobil otomatis hingga robot. Namun jika mesin bisa belajar banyak hal dengan sendirinya, terdapat ketakutan akan menjadi terlalu kuatnya kecerdasan buatan.

Hal seperti ini harusnya bisa dicegah jika terdapat monitoring yang baik terhadap kecerdasan buatan tersebut. Tak hanya itu, bahkan dibutuhkan sebuah kontrol untuk mematikan kecerdasan buatan yang sepenuhnya dipegang oleh manusia.

Untuk mendapatkan hal ini, perlu riset serta penelitian yang mendalam untuk memastikan bahwa berbagai aspek dari kecerdasan buatan akan mencegah efek yang tak diinginkan. Kita tentu tak ingin kecerdasan buatan membuat kita menjadi yang ‘dikontrol’ oleh para robot dan membuat umat manusia jadi tergantung penuh terhadap robot.

4. Evolusi mesin dan manusia

Sadarkah Anda bahwa berbagai perusahaan kini banyak mengembangkan kecanggihan teknologi yang mengembangkan berbagai organ artifisial yang dapat dipasang di tubuh kita? Berbagai hal seperti lensa mata artifisial hingga otak artifisial menjadi hal yang akan segera terealisasi di masa depan.

Bahkan seiring berjalannya waktu, nantinya akan ditambahkan elemen digital ke otak kita, yang akan menjadikan manusia menjadi lebih baik. Saat tersebut adalah di mana kecerdasan buatan akan menjadi satu dengan tubuh kita. Sebenarnya hal ini merupakan hal yang baik, namun penting juga untuk berpikir apakah teknologi sudah berlebihan dalam mempengaruhi hidup manusia atau tidak. – PT Bestprofit Futures

Harusnya diskusi etis tentang isu bagaimana sebuah teknologi akan mempengaruhi manusia, dilakukan bahkan sebelum teknologi tersebut dikembangkan. Perusahaan harus memulai untuk memikirkan isu bagaimana manusia berpartner dengan mesin atau robot, dan hubungan macam apa yang ingin dikembangkan dengan mesin atau robot tersebut.

sumber : merdeka.com