Best Profit Futures Banjarmasin

Asuransi Astra Berpeluang Cicip Kerja Sama dengan Gojek

PT. BESTPROFIT FUTURES

8d99d7af-5159-4970-bbdd-a13a1ce22575_169

Jakarta, CNN Indonesia — Anak usaha Astra Internasional dalam bidang asuransi, Asuransi Astra, berpikir memanfaatkan kerjasama induk perusahaan bersama Gojek melalui unit bisnis Gocar untuk menambah pasar. Seperti diketahui Astra International merupakan salah satu investor Gojek. Nilai investasi yang dikucurkan secara bertahap mencapai US$250 juta (sekitar Rp3,5 triliun). BESTPROFIT

Gocar sebagai unit bisnis taksi online Gojek saat ini memiliki banyak mitra (pengemudi). Sebagian mitra menggunakan aset kendaraan pribadi sebagai modal kerja, kelompok ini memungkinkan jadi konsumen Asuransi Astra yang punya bisnis kuat asuransi kendaraan bernama Garda Oto.

“Sejauh ini ya masing-masing punya kerjasama juga. Ya buat Asuransi Astra terbuka selama produk (asuransi) itu kami ada,” kata CEO Asuransi Astra Rudy Chen ditemui di sela-sela peluncuran aplikasi baru Asuransi Astra dikawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (19/9).

Kendati begitu, Rudy menyebut belum ada kebijakan perusahaan yang mewajibkan mitra Gocar wajib menggunakan fasilitas Asuransi Astra. Menurut Rudy, kemungkinan kerja sama lebih dalam antara pihaknya dengan Gocar hanya bisa diputuskan para pejabat Astra International dan Gojek nantinya.

“Soal dengan Gojek, saya tidak mau komentar dulu, Astra saja yang komentari,” kata Rudy.

Kerjasama antara Astra International dan Gojek sudah membuahkan beberapa inovasi pada industri transportasi. Salah satunya yaitu Gofleet yang merupakan divisi bisnis baru berupa penyewaan kendaraan khusus untuk mitra Gocar.  Inovasi lainnya yakni penggunaan motor listrik buatan Astra Honda Motor, PCX EV, sebagai alat transportasi roda dua Gojek.

Untuk mendapat akses kendaraan ini ia menjelaskan seseorang sebelumnya harus terdaftar dahulu di Gojek. Setelah itu pihak Gojek akan mengarahkan pihak mitra tersebut ke Gofleet. PT. BESTPROFIT

Pandu menuturkan mitra Gojek harus menyetorkan sejumlah biaya administrasi. Tahap awal, kata dia akan dikenakan biaya Rp1,5 juta.

“Komitmen awal itu Rp1,5 juta. Tapi ada biaya lagi Rp1.180.000 per minggu. Tapi biaya mingguan itu kami tariknya per hari,” ucapnya.

Selain mendapat mobil, ia mengatakan biaya tersebut sudah termasuk perawatan berkala, layanan perbaikan, dan perlindungan asuransi. Sedangkan mobil yang tersedia adalah Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia.

Mitra Gofleet juga punya kesempatan mendapat pemasukan tambahan melalui iklan yang bisa dipasang pada layar LED di kaca belakang mobil. “Tapi kami belum bisa sampaikan berapa pembagiannya dari iklan antara mitra dengan perusahaan. Karena ini baru saja mulai ya,” kata Pandu.

Pandu melanjutkan mobil Gofleet tidak akan menjadi hak milik mitra meski setiap bulan rutin ditarik biaya. Sistem kerjasama dengan mitra Gocar hanya sebatas sewa.

Presiden Direktur Gofleet Meliza M. Rusli menambahkan bahwa kehadiran Gofleet diharapkan bakal memberi keuntungan bagi buat driver dan pelanggan jasa transportasi online.

Mayoritas Kredit

Rudy mengungkap dari 400 ribu nasabah mobil yang ada pada saat ini, 67 persen di antaranya merupakan pembeli yang mencicil. Nasabah ini menggunakan asuransi karena terikat kebijakan perusahaan pembiayaan (leasing) yang memberikan mereka fasilitas kredit.

“Untuk pasar itu sekarang sekitar 67 persen masih leasing. Karena kalau kredit itu ya mau tidak mau asuransi, kalau beli mobil lunas kan pilihan,” kata Rudy di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (19/9).

Ia mengatakan riset menyatakan masih jarang pembeli mengasuransikan mobilnya, terlebih bila pembelian dilakukan secara tunai. Menurut dia, asuransi bakal terpikirkan bila sudah mengalami kecelakaan atau terkena insiden lain yang melibatkan mobilnya.  PT. BEST PROFIT

“Jadi bisa dibilang pasarnya sekarang masih pasar kredit. Karena orang berpikir kalau beli asuransi apasih yang bakal mereka dapat,” ucapnya.

Mayoritas Mobil Menengah-bawah

Rudy menyebut konsumen asuransi Astra saat ini paling banyak dalam kategori menengah ke bawah. Meski tidak menyebut spesifik, mayoritas nasabahnya meliputi mobil dengan harga Rp200 juta- Rp300 juta.

“Ya seperti Agya, atau Kijang itu yang menjadi nasabah,” katanya.

Menurut dia jumlah konsumen yang menggunakan mobil-mobil premium jumlahnya sangat kecil.

“Untuk level (harga mobil) Rp1 miliar, ada, tapi jarang. Apalagi mobil premium yang belinya itu lunas. Mungkin juga karena memang populasi mobil mewah itu kan masih sedikit,” ucapnya. BEST PROFIT

 

Sumber : cnnindonesia