Ancaman Delta Plus, Sudah Vaksin-Penyintas Bisa Tertular Lagi

news Post Tekno

PT. BESTPROFIT FUTURES

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Peneliti mengungkap bagaimana kecerdikan dari varian Delta Plus agar tidak dikenali oleh antibodi, sehingga bisa menginfeksi ulang orang yang sudah pernah terinfeksi Covid-19 (penyintas) dan mereka yang sudah di vaksin. Hal ini berdasarkan temuan seorang profesor di University of Missouri (MU) College of Veterinary Medicine and Bond Life Sciences Center, Kamlendra Singh, bekerja sama dengan mahasiswa sarjana MU, Austin Spratt. BESTPROFIT

Penelitian ini dibuat lantaran keheranan Singh atas keanehan yang ia alami saat ia terbang kembali ke Missouri, Amerika Serikat dari India pada April. Ia sudah divaksin Covid-19 sebelumnya dan di tes negatif Covid-19 saat akan terbang ke AS. Namun, saat di dalam pesawat ia mengalami batuh dan demam. Saat tiba di AS, ia lantas dinyatakan positif Covid-19 atas infeksi varian Delta. Hal serupa ternyata terjadi pada beberapa orang lain yang juga sudah divaksin atau sudah terinfeksi Covid-19 sebelumnya. Hal ini menggelitik dan menginisiasi Singh untuk melakukan penelitian. PT. BESTPROFIT

Kecerdikan Delta Plus

Mereka menganalisis urutan protein untuk lebih dari 300 ribu sampel COVID-19 dari dua varian yang muncul di seluruh dunia, yang dikenal sebagai Delta dan Delta Plus. Temuan ini berhasil membantu menjelaskan mengapa ada begitu banyak orang yang dites positif untuk varian Delta Plus meskipun telah divaksinasi atau pernah terinfeksi Covid-19 sebelumnya.

“Baik itu antibodi alami yang dihasilkan dari sebelumnya memiliki COVID-19 atau antibodi yang dihasilkan dari vaksin. kami menunjukkan secara struktural betapa berbahaya dan pintarnya virus dengan mampu bermutasi dengan cara yang tampaknya tidak dikenali dan dipertahankan oleh antibodi terhadap varian baru ini,” kata Spratt seperti dikutip dari Science Daily, Selasa (28/9). PT. BEST PROFIT

Varian Delta Plus disebut memiliki jumlah mutasi prevalensi tinggi yang signifikan (lebih atau sama dengan 20 persen) dibandingkan dengan varian Delta. Dalam laporan Spratt tertulis persentase mutasi khas terdapat di protein paku (G142D, A222V, dan T95I) di varian Delta Plus lebih signifikan ketimbang varian Delta.

Tiga mutasi khas yang ada di protein paku (spike protein Delta Plus adalah K417N, V70F, dan W258L. Selanjutnya, terdapat lima mutasi kunci (T95I, A222V, G142D, R158G, dan K417N) yang muncul lebih signifikan di Delta Plus daripada varian Delta.

“Analisis struktural mengungkapkan bahwa mutasi mengubah susunan molekul untuk melemahkan interaksi dengan antibodi,” seperti tertulis dalam laporan Spratt yang dilansir dari Science Direct.

Temuan tersebut memberikan petunjuk penting bagi para peneliti tentang perubahan struktural pada virus baru-baru ini dan menyoroti perlunya memperluas kotak peralatan dalam perang melawan Covid-19.

Solusi atasi Delta Plus

Lebih lanjut, Singh menjelaskan bahwa untuk sementara vaksin Covid-19 efektif menangkal virus, namun menurutnya masih ada hal lain yang mungkin lebih efektif untuk menghentikan pandemi yakni pengembangan obat antivirus yang menargetkan area spesifik virus yang tetap tidak berubah oleh mutasi. BEST PROFIT

“Jika kita dapat mengembangkan obat molekul kecil yang menargetkan bagian virus yang tidak bermutasi, itu akan menjadi solusi akhir untuk memerangi virus,” kata Singh.

“Analisis evolusi varian Delta dan Delta Plus dari virus SARS-CoV-2” baru-baru ini diterbitkan dalam Journal of Autoimmunity. Pendanaan disediakan oleh Pusat Ilmu Hayati Obligasi MU dan Institut Riset Strategis Nasional di Universitas Nebraska. Jurnal ini belum mendapat tinjauan rekan sejawat.

Sumber : cnnindonesia