Ahli: Donor Plasma Konvalesen Beri Kekebalan Pasien Covid-19

INFO DAN KEGIATAN news Post Tekno

PT. BESTPROFIT FUTURES

vaksinasi-di-zona-merah-cilangkap-10_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Ketua Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman Amin Soebadrio menegaskan sejauh ini plasma konvalesen masih belum terbukti bisa menyembuhkan pasien berat Covid-19. Namun di tengah jumlah positif Covid-19 yang meledak akhir-akhir ini, Amin menegaskan bahwa terapi plasma konvalesen bisa menjadi harapan untuk memberikan kekebalan bagi pasien Covid sedang dan ringan. BESTPROFIT

“Plasma konvalesen hanya untuk stadium ringan dan sedang. Tidak untuk kasus berat,” tegas Amin kepada CNNIndonesia.com.

Kekebalan Pasif dari Plasma Konvalesen untuk Pasien Covid-19
Studi yang dilakukan Eijkman dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto (RSPAD) dan PT Biofarma mengenai keamanan dan potensi efektivitas Terapi Plasma Konvalesen (TPK) untuk mengobati pasien terjangkit Covid-19 sudah dipublikasikan di jurnal ilmiah Lancet EClinical Medicine. Berjudul ‘Convalescent Plasma Therapy in Patients with Moderate-to-Severe COVID-19 : A study from Indonesia for clinical research in low-and-middle income countries’, jurnal tersebut merinci plasma konvalesen dari individu yang telah sembuh dari covid-19 dipisahkan dengan menggunakan teknik bernama Plasmapheresis. Plasma ini dapat memberi kekebalan pasif kepada pasien yang sedang terjangkit Covid-19. PT. BESTPROFIT

“Dengan adanya antibodi tambahan yang spesifik terhadap virus SARS-CoV-2 ini, tubuh mendapat amunisi ekstra untuk melawan virus,” tulis Eijkman di akun Instagram resmi @eijkmaninstitute.

Studi tersebut merekrut 11 donor plasma dan 10 pasien yang terjangkit virus corona. Tim peneliti lalu menjelaskan perubahan berbagai penanda biologis seperti jumlah virus (virus load), konsentrasi C-Reactive Protein (CRP) dan jumlah antibodi penetralisir virus SARS-CoV-2 selama 4 minggu. Eijkman kemudian memaparkan adanya tren penurunan jumlah virus setelah pasien terjangkit Covid-19 saat diberikan plasma konvalesen.

Di tengah ketidakpastian pengobatan untuk covid-19, TPK telah muncul sebagai harapan untuk penanganan penyakit ini. Penelitian juga dilakukan untuk mengekplorasi awal hasil TPK pada covid-19 derajat sedang dan berat di Indonesia, serta mendapatkan pengalaman dan bahan-bahan untuk mendesain penelitian dengan skala yang lebih besar, yang dapat diterapkan di negara berkembang dengan ketersediaan sumber daya yang terbatas. PT. BEST PROFIT

“Hasil penelitian menunjukkan keamanan dan potensi efektivitas pengobatan Covid-19,” demikian Eijkman. Lebih Cepat Beri Plasma Lebih Baik David Handojo Muljono, Deputi bidang penelitian Translasional Eijkman mengungkap studi penggunaan plasma konvalesen pada kasus berat Covid-19 tidak ada perbedaan dengan terapi kontrol biasa.

“Pemberian dini [plasma konvalesen] dan pada pasien Covid-19 derajat ringan lebih baik dibandingkan pada pemberian tertunda dan pasien derajat berat,” tambah David dalam webinar terkait Hari Donor Darah Sedunia, Senin (14/6). Di samping itu, David juga mengatakan regulator di berbagai negara dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejauh ini belum mengizinkan penggunaan plasma konvalesen sebagai standar terapi dan masih menanti hasil uji klinis dengan nilai statistik kuat.

Dalam arti lain, penggunaannya masih dengan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA). Dia memberi catatan bahwa yang terpenting dalam memberikan plasma konvalesen dengan kadar antibodi netralisasi yang tinggi dan pada saat yang tepat, yakni saat pasien derajat sedang, yang belum mengalami perburukan. Bisa dikatakan, pemberian plasma konvalesen yang lebih cepat maka lebih baik. BEST PROFIT

Kadar antibodi netralisasi atau juga disebut dengan neutralizing antibody (NAb) merupakan antibodi yang dapat mempertahankan kelangsungan hidup sel dengan cara menetralkan efek biologis yang ditimbulkan oleh agen infeksius ataupun patogen. David menambahkan berdasarkan penelitian, kadar antibodi netralisasi umumnya lebih rendah pada pasien Covid-19 tanpa gejala. Sementara pada penyintas dengan gejala parah, lebih tinggi.

“Penyintas [dengan gejala] yang parah sudah terbukti menetralisir antibodi dan sembuh,” tambahnya.

Sumber : cnnindonesia

PT BESTPROFIT FUTURES, PT BEST PROFIT FUTURES, PT BESTPROFIT, PT BEST PROFIT, BESTPROFIT FUTURES, BEST PROFIT FUTURES, BESTPROFIT, BEST PROFIT, BESTPRO, BPF, PT.BPF, BPF BANJAR, BPF BANJARMASIN, PT BEST, PT BPF