Best Profit Futures Banjarmasin

Ahli Beberkan Cara Kerja Obat Tekan Virus Corona Bereplikasi

PT. BESTPROFIT FUTURES

9399fe54-dc57-4e34-a55f-c0ce7be9636a_169

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Ahli biologi molekuler dan pandemi Ahmad Rusdan Handoyo membeberkan cara kerja obat remdesivir dan deksametason yang disebut berpotensi menyembuhkan penyakit Covid-19. Remdesivir telah didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia sejak 1 Oktober 2020 dengan merek paten Covifor. Ahmad mengatakan remdesivir adalah analog nukleosida yang mampu mencegah virus Covid-19 bereplikasi di tubuh manusia. Mekanisme obat ini adalah dengan memblokir enzim RNA yang dibutuhkan virus untuk bereplikasi. BESTPROFIT


“Obat itu adalah analog nukleosida yang akan meracuni enzimnya si virus yaitu enzim yang bertugas mereplikasi RNA virus. Nama enzim itu RdRP atau RNA dependent RNA polymerase,” kata Ahmad saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (2/10). Ahmad mengatakan saat virus masuk, RdRP tak akan mendeteksi remdesivir sebagai obat untuk merusak enzim virus. Setelah obat berinteraksi dengan RdRP, obat akan meracuni enzim tersebut.

“Ketika obat itu terinkorporasi, obat itu akan memblokir mesin RdRP sehingga keracunan. Walhasil terhentilah replikasi virus,” ucap Ahmad. Mengacu dari hasil uji klinis remdesivir di Amerika Serikat, Ahmad menjelaskan obat ini terbukti mempercepat waktu perawatan pasien Covid-19, tapi tidak mengurangi risiko kematian secara signifikan. PT. BESTPROFIT

“Bedanya 4 hari. Dengan remdesivir median perawatan 11 hari, tanpa remdesivir,” kata Ahmad. Lebih lanjut, Ahmad menyoroti harga Covifor yang fantastis, di Indonesia obat itu dijual dengan harga Rp3 juta per dosis. Di India, tempat obat Covifor berasal, Covid-19 dibanderol dengan harga Rp1 jutaan.

“Saya tidak yakin remdesivir ini cost effective,” ujar Ahmad. Di sisi lain, Ahmad mengatakan obat deksametason berfungsi untuk meredakan inflamasi atau peradangan akibat Covid-19 bagi pasien dengan gejala berat, bukan untuk gejala ringan apalagi untuk pencegahan Covid-19.

“Deksametason menekan inflamasi sedangkan remdesivir menekan replikasi virus,” ujar Ahmad. Ahmad menjelaskan penelitian menunjukkan deksametason bisa mengurangi kematian hingga 30 persen. Ia mengatakan deksametason telah digunakan sebagai obat asma, namun tetap menggunakan resep dokter.

“Sedangkan deksametason yang juga diberikan untuk sesama pasien gejala berat jauh lebih murah dan terbukti bisa menurunkan risiko kematian hingga 30 persen,” ujar Ahmad. Untuk memilih penggunaan dua obat, Ahmad mengatakan dokter harus menentukan apakah pasien bergejala berat disebabkan oleh virus yang terkendali atau akibat badai sitokin yang tak terpengaruh oleh jumlah virus. PT. BEST PROFIT

Badai sitokin disebabkan oleh respons imun tubuh yang berlebihan. Sitokin adalah molekul pemberi sinyal kimia yang memandu respons sistem kekebalan tubuh, tetapi kadar sitokin tertentu melambung jauh melebihi apa yang dibutuhkan oleh tubuh, hal ini menyebabkan badai sitokin. Badai sitokin adalah reaksi berlebihan bencana yang menyebabkan begitu banyak peradangan dan kerusakan organ, bisa berakibat fatal. Pada pasien Covid-19 dan virus corona lainnya seperti SARS dan MERS, badai sitokin menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), ketika cairan menumpuk di paru-paru. Ini adalah penyebab kematian paling umum dari SARS-CoV-2.

“Tapi untuk kasus berat, apakah pasien menderita karena virusnya tidak terkendali atau karena badai sitokin yang sudah tidak berpengaruh lagi dengan jumlah virus,” tutup Ahmad. BEST PROFIT

Sumber : cnnindonesia