5 Hal Ketika Usia Matahari Habis: Membengkak dan Telan Bumi

INFO DAN KEGIATAN news Post Tekno

PT. BESTPROFIT FUTURES

PT. BESTPROFIT FUTURES BANJARMASIN – Para ahli saat ini menyebut usia Matahari sekitar 4,6 miliar tahun. Matahari diprediksi akan mati dalam waktu sekitar 10 miliar tahun lagi. Namun, 5 miliar tahun sebelum mati Matahari tidak akan tampak seperti tampilan hari ini. Ia akan berubah berubah menjadi bintang raksasa berwarna kemerahan. Inti Matahari akan menyusut, namun lapisan luar akan meluas sampai ke orbit Mars dan menelan Bumi. BESTPROFIT


Matahari membengkak

Para ahli menyebut Matahari akan mati ketika bintang itu kehabisan hidrogen. Ketika hidrogen habis, Tim memprediksi Matahari akan menjadi nebula atau letupan gas dan debu cahaya yang mengisi ruang angkasa. Nebula sendiri adalah sisa-sisa bintang yang telah mati.

Tanpa kandungan hidrogen, inti Matahari disebut mulai berkontraksi, sementara gaya gravitasi mulai mengambil alih inti Matahari. Sehingga bintang itu hanya akan menjadi kumparan raksasa merah dan mati. Perlahan Matahari akan mati perlahan menjadi katai putih. PT. BESTPROFIT

Matahari butuh tumbuh dua kali dari sekarang. Apabila pertumbuhan itu terjadi, Matahari artinya berhasil bertahan dari transformasi kematian Matahari, dan bintang terbesar itu akan terselamatkan 5 miliar tahun ke depan. Hal ini berdasarkan penelitian yang diterbitkan jurnal Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. Lewat penelitian ini

para tim astronom menghitung bagaimana intensitas Matahari berevolusi selama 5 miliar tahun ke depan ketika kehabisan energi hidrogen. Tim menyebut kini Matahari dalam siklus stabil.

Beberapa penelitian terdahulu juga menemukan agar bintang yang akan mati bisa menjadi agar nebula, maka bintang akan membengkak berukuran dua kali lebih besar dari sebelumnya.

Susut jadi katai putih dan nebula

Studi tahun 2018 menggunakan pemodelan komputer menyebut 90 persen bintang setelah membengkak jadi raksasa merah lantas menyusut jadi katai putih dan berakhir sebagai nebula planet.

“Ketika sebuah bintang mati, ia mengeluarkan massa gas dan debu – sebagai selubung – ke luar angkasa. Selubung itu bisa mencapai setengah massa bintang. Hal ini terjadi karena inti bintang kehabisan bahan bakar, kehilangan cahaya dan mati,” jelas astrofisikawan Albert Zijlstra dari University of Manchester di Inggris, salah satu penulis jurnal tersebut seperti dikutip Science Alert. PT. BEST PROFIT

Dampak ke Bumi

Namun, menurut para peneliti ketika hal ini terjadi, manusia sudah tidak ada di Bumi. Sebab, umat manusia hanya memiliki sisa sekitar 1 miliar tahun untuk hidup di Bumi. Sebab, Bumi jadi tempat yang makin tak nyaman dihuni imbas peningkatan kecerahan Matahari sekitar 10 persen setiap 1 miliar tahun.

Peningkatan kecerahan berkala ini akan mengakhiri banyak kehidupan di Bumi. Lautan akan menguap dan permukaan Bumi akan menjadi terlalu panas untuk membentuk air.

Matahari makan planet

Aline Vidotto, astrofisikawan di Trinity College Dublin mengatakan para tim astronom tidak menduga bahwa Matahari di masa depan dapat merusak pelindung medan magnet planet-planet yang disekitarnya.

“Kita tahu bahwa angin Matahari di masa lalu mengikis atmosfer Mars, yang tidak seperti Bumi, tidak memiliki magnetosfer skala besar,” kata tim penulis studi Aline Vidotto, astrofisikawan di Trinity College Dublin, dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari Live Science. BEST PROFIT

Muncul kehidupan baru

Beberapa astronom berpikir dari punahnya Matahari justru akan menimbulkan kehidupan baru di planet-planet sekitar Matahari seperti Merkurius, Venus, Mars dan Bumi sekali pun.

Selain menjadi pengingat kehidupan di Bumi akan kiamat, penelitian ini berimplikasi pada pencarian kehidupan di luar bumi. Hal itu menandakan sangat tidak mungkin bahwa kehidupan di planet dapat bertahan dari kematian Matahari, menurut laporan Space.

Sumber : cnnindonesia

Tinggalkan Balasan